“Wisata Sehat” Mak Erot dan Purwoceng

0
1793
Sumber: https://indonesia.go.id/

Pemerintah memang senang memberikan pernyataan yang nyeleneh, setuju? Baru-baru ini Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan kalau pengobatan tradisional Indonesia bisa menjadi bagian dari promosi wisata demi menarik turis asing. Mak erot dan purwoceng adalah dua produk tradisional yang digadang-gadang dapat memenuhi ekspektasi tersebut.

Menanggapi hal ini, dr. Rianti Maharani, M.Si, dokter herbal medik yang juga anggota Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) mengatakan purwoceng memang bisa memberikan efek kesehatan,  “Mak erotnya mungkin bagian penyehatan tradisional bagian pijat, tapi saya sih tidak merekomendasikan,” tambah dr Rianti.

Dikatakan dr. Rianti pengobatan mak erot yang selama ini identik dengan pembesaran penis hanya terbukti secara empiris dalam arti turun-temurun. Tidak sesuai dengan prinsip-prinsip etika kesehatan tradisional. “Kalau purwoceng memang sudah banyak jurnal penelitian mengenai tanaman ini untuk pengobatan,” jelasnya lagi.

BACA JUGA: Menjamu Jamu di Kemang Bersama Acaraki

Senada dengan apa yang disampaikan dr. Rianti, nutrisionis Repa Kuspita mengatakan mak erot yang disebutkan oleh Menkes bisa jadi mengacu pada jamu produksi mak erot dan juga pijatan khas mak erot.

“Kalau pengalaman saya menelusuri kajian perjamuan di kawasan Harmoni Jakarta pada malam hari, jamu mak erot itu untuk obat kuat begitu juga dengan purwoceng,” jelas founder dari Gastro Tourism Academy ini menjelaskan.

Purwoceng sendiri merupakan tanaman khas Dataran Tinggi Dieng yang tidak hanya diklaim sebagai obat kuat tetapi juga baik untuk mengurangi gejala asam urat dan reumatik. Menurut sepengetahuan nutrisionis Repa Kuspita, jamu mak erot baru terindeks sebagai PIRT (Perizinan Produksi Industri Rumah Tangga) dan belum ada nomor BPOMnya untuk kategori jamu.

BACA JUGA: Sambiloto, Obat Herpes Genital Mujarab

“Tapi kalau wisata kebugaran menawarkan jamu mak erot dan pijatan khas mak erot sepertinya perlu kajian sosial budaya juga karena itu kan ada lah seni pijat untuk keperkasaan yang sudah lumrah di masyarakat,” tambahnya lagi.

Seperti halnya Ayurveda dari India, Zhongyi dari China, Indonesia juga terkenal dengan pengobatan tradisionalnya. Sebagai langkah mendukung pengobatan tradisional ini, tentunya sangat baik bila jamu menjadi bagian dalam promosi wisata.

Tentunya, tidak asal sembarang keyakinan turun-temurun, tetap harus hati-hati. Karena banyak juga produk herbal yang belum tentu bisa memberikan kesembuhan, malah konsumen bisa mendapatkan efek samping yang tidak diharapkan.

BACA JUGA: Benarkah Tanaman Bajakah Bisa Menyembuhkan Kanker?