Waspada Mikroplastik dalam Makanan Kita

0
134
Waspada Mikroplastik dalam Makanan Kita
Waspada Mikroplastik dalam Makanan Kita

Plastik & Mikroplastik merupakan Dampak Pencemaran Lingkungan

Kita semua menyadari betapa plastik punya dampak pencemaran lingkungan.

Selain plastik, yang tak kalah membahayakan -namun seringkali tidak kita sadari keberadaannya- adalah mikroplastik. Baru-baru ini, banyak tulisan muncul yang berfokus pada ancaman mikroplastik.

Apa itu Mikroplastik?

Mikroplastik adalah partikel yang besarnya tidak lebih dari 5 mm, baik yang berasal dari sampah plastik yang terdegradasi menjadi ukuran kecil, bahan baku plastik, maupun bahan yang digunakan dalam kosmetik dan perawatan tubuh seperti shampo, sabun, odol dan sejenisnya.

Dalam komposisi kosmetik kita bisa menemukannya pada berbagai partikel, salah satunya microbeads yang sering kita temui pada produk pembersih wajah.

Pengertian Microbeads

Microbeads adalah butiran-butiran halus yang saking halusnya, Anda sering tidak dapat merasakannya saat bersentuhan dengan kulit.

Microbeads juga sering disamarkan produsen dengan sebutan “gentle exfoliants“. Umumnya satu kemasan pembersih wajah mengandung sedikitnya 330.000 microbeads.

Sayangnya meski diklaim bisa membersihkan wajah Anda, microbeads justru mengotori lingkungan.

Partikel yang Ada di Microbeads 

Partikel lainnya adalah Polyethylen (PE), Polypropylene (PP), Polyethylene terephthalate (PET), Polymethyl methacrylates (PMMA) dan Nylon (PA). Merekalah penghasil utama mikroplastik.

Penelitian tentang temuan mikroplastik di lautan sebetulnya sudah ada sejak tahun 1970, namun belakangan, isu polusi mikroplastik sudah semakin mengkhawatirkan.

Diperkirakan setiap tahunnya 8,8 juta ton sampah plastik masuk ke laut.

Menurut penggiat zero waste, I Putu Jody S, kita tidak perlu mencari contoh jauh-jauh, “Di sungai dan danau buatan pun bisa kita lihat serpihan-serpihan makroplastik dan mikroplastik mengapung,” tutur Putu yang aktif di Komunitas Jogja Plastik Cleanup.

Menurut Studi Oleh Associate Professor Universitas Georgia

Menurut studi yang dilakukan oleh Associate Professor Universitas Georgia, Jenna Jambeck, Indonesia berada di posisi kedua setelah Cina, sebagai negara dengan sampah plastik yang berakhir di lautan. Jurnal riset tersebut berjudul “Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean.”

Pencemaran mikroplastik ini tak hanya membahayakan organisme dan lingkungan, tetapi juga mengancam sumber makanan kita.

Sebab, permukaan mikroplastik ibarat spons yang menyerap polutan kimia dan organisme patogen di alam terbuka.

Ketika laut tercemar, masuk ke rantai makanan, sumber makanan yang berasal dari laut pun turut tercemar.

Tak hanya ikan, sumber makanan lain dari laut, misalnya, garam laut, juga tak luput dari pencemaran mikroplastik.

Sebuah studi mengungkap,

Dari 39 merek garam yang diteliti, ada 36 yang ternyata mengandung mikroplastik.

Data itu berdasarkan hasil penelitian di Korea Selatan dan organisasi Greenpeace Asia Timur. Penelitian lain mengungkap, rata-rata orang dewasa mengonsumsi sekitar 2000 mikroplastik per tahun melalui garam.

Putu menambahkan, plastik tak hanya menyebar pada rantai makanan satwa di lautan, tapi juga sudah masuk ke satwa daratan.

“Ekstensinya seperti apa di wilayah daratan, belum ada hasil penelitiannya.

Salah satu pertanyaan besar tentang mikroplastik yang belum terjawab adalah bagaimana dengan mikroplastik yang berada di daratan dan implikasinya terhadap tanaman?”

Apa dampak mikroplastik pada kesehatan tubuh kita memang belum bisa disimpulkan.

Namun demikian, para ilmuwan sepakat, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas kesehatan yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik.

  • Apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen?

Seperti yang sudah sering kita dengar tentunya, salah satu cara mudah mengurangi pencemaran mikroplastik adalah dengan mulai mengurangi pemakaian plastik sekali pakai.

“Pilih mengonsumsi makan dan minum di tempat ketimbang dibungkus. Bawa botol minum saat bepergian,” adalah beberapa saran Putu.

Sebagai konsumen kita juga harus lebih cermat ketika membeli produk, selalu perhatikan komposisi produk yang akan Anda beli, hindari membeli produk yang di dalamnya mengandung mikroplastik.

“Intinya lebih baik mencegah sebelum terjadi,” jelasnya. Putu menambahkan, di Indonesia sendiri juga sudah mulai banyak komunitas Zero Waste di berbagai grup media sosial.

Anda yang tertarik untuk lebih dalam mengikuti isu mengurangi sampah bisa coba cek akun-akun berikut ini untuk mendapat inspirasi, antara lain:

  1. @bebassampah2020
  2. @seasoldier
  3. @waste4change
  4. @zerowastenusantara
  5. Atau @osijiclub

Baca juga: Bantu Proses Daur Ulang Dengan Menukar Sampah Menjadi Uang