Vitamin D Berperan Langsung Dalam Meningkatkan Imunitas Tubuh

0
4591

Selama menghadapi masa pandemi ini, imunitas menjadi topik yang amat sering dibahas. Daya tahan tubuh yang baik memang teramat penting, karena bukan hanya membentengi diri kita dari virus, tapi dapat juga mengurangi memberatnya efek dari virus tersebut.

Beberapa penelitian yang dilakukan selama wabah ini mengungkapkan bahwa mereka yang punya daya tahan tubuh yang baik, memiliki gejala yang lebih ringan dibanding mereka yang imunitasnya rendah.

Diantara berbagai anjuran untuk meningkatkan daya tubuh saat pandemi ini, Vitamin D sering dibicarakan karena disebut-sebut dapat meningkatkan imunitas tubuh. Vitamin D ini juga berhubungan dengan kegiatan berjemur yang banyak disarankan oleh para ahli kesehatan.

Vitamin D mungkin tidak sepopuler Vitamin C atau B. Meski begitu vitamin ini ternyata begitu penting dalam memelihara kesehatan tubuh kita secara umum, namun sayangnya selama ini tidak mendapat perhatian yang cukup.

Apa manfaatnya untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan dan bagaimana mendapatkannya dikupas oleh dr. Lusia Anggraini, MPH, Staf ahli Indonesia Vegetarian Society – Vegan Society Indonesia pada sesi IG Live @ivs.vsi yang diadakan Sabtu lalu (20/6).

Berikut poin-poin penting yang kami rangkum dari acara tersebut.

1. Vitamin D Berperan Langsung Dalam Meningkatkan Imunitas Tubuh

Di dalam proses imun kita, vitamin D berperan langsung sebagai imunomodulator, ungkap dokter Lusia.

“Ketika virus atau bakteri atau apapun yang dianggap benda asing masuk ke dalam tubuh kita, ada “pasukan” tubuh yang akan menghadang. Vitamin D sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan sel-sel “pasukan” penghadang yang berhubungan dengan sistem imun kita. Kalau bakteri atau virus itu sudah masuk, akan terjadi infeksi kemudian peradangan (inflamasi) . Di sini juga vitamin D membantu mencegah terjadinya peradanganan yang lebih parah, karena inflamasi membuat segala sesuatunya lebih berat,”jelasnya.

2. Vitamin D Dapat Membantu Mencegah Berbagai Macam Penyakit

Dari buku-buku gizi yang ada selama ini, kita diberitahu kalau vitamin D adalah vitamin yang bermanfaat untuk pertumbuhan tulang. Memang tidak salah.

“Vitamin D mempengaruhi penyerapan kalsium. Konsumsi Vitamin D yang cukup dapat mencegah penyakit seperti osteoporosis, osteopenia dan berbagai penyakit tulang lainnya,” jelas dokter Lusia.

Maka itu, sambungnya, anak-anak jangan sampai kekurangan vitamin D, bahkan dari dalam kandungan, vitamin D anak-anak harus diperhatikan sekali untuk mencegah tulang rapuh atau tipis dan periodontitis (gigi yang mudah tanggal).

Meski begitu, Vitamin D bukan hanya bermanfaat untuk tulang, gigi, dan imunitas.

“Penelitian menunjukkan Vitamin D berfungsi sangat besar terhadap organ tubuh lainnya, karena reseptor atau penangkap Vitamin D ini ada di dalam berbagai organ. Misalnya dikatakan vitamin D dapat mencegah beberapa penyakit kanker seperti payudara, prostat dan colon. Karena memang reseptor vitamin D ini ada di payudara, prostat, dan usus besar,” jelas dokter Lusia.

“Termasuk juga di saraf kita. Ada beberapa penelitian yang bilang kalau kekurangan Vitamin D dapat menyebabkan neuropati (penurunan fungsi saraf). Mereka yang kadar vitamin D-nya rendah juga dikatakan lebih mudah terkena depresi, termasuk juga gangguan tidur (insomnia). Penelitian lain mengungkapkan bahwa kecukupan vitamin D bisa mencegah dementia, alzheimer, parkinson.”

Dokter Lusia mengatakan kalau memang masih ada pro kontra terhadap hasil berbagai penelitian tersebut dan butuh penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. “Namun paling tidak, Vitamin D mencegahnya menjadi lebih berat,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa Vitamin D bukan obat, tapi membantu mengurangi atau mencegah penyakit-penyakit yang disebutnya di atas.

3. Hampir Semua Orang Kekurangan Vitamin D

Bagaimana cara mengetahui kondisi Vitamin D kita? Kita bisa mengeceknya di lab. Dan setelah hasilnya keluar, jangan kaget kalau Vitamin D Anda ternyata rendah bahkan kekurangan.

Meskipun tinggal di negeri tropis yang berlimpah sinar matahari, rata-rata orang kekurangan vitamin ini. Apalagi mereka yang tinggal di negeri empat musim yang ada kalanya tidak mendapat paparan sinar matahari.

Di seluruh dunia, diperkirakan satu miliar orang mengalami kekurangan vitamin D.

“Ketika saya pertama kali mendalami Vitamin D, saya terkejut juga. Dari penelitian, rata-rata presentase kekurangan Vitamin D di Amerika, Eropa, bahkan cina mencapai 60%. Di Indonesia dan negara-negara asia juga cukup mengejutkan, rata-rata 50% mengalami defisiensi Vitamin D. Jadi saya pikir, kita juga mengalami pandemi defisiensi vitamin D,” ujar dokter Lusia.

4. Tidak Khas, Tapi Beberapa Gejala Ini Bisa Jadi Gambaran Kekurangan Vitamin D

Banyak orang tidak tahu kalau dirinya mengalami defisiensi vitamin D, karena gejala kekurangan vitamin D memang tidak khas. Namun, menurut penjelasan dokter Lusia, ada beberapa gejala yang bisa jadi timbul karena kekurangan vitamin D.

  1. Mudah flu
  2. Mudah lelah
  3. Mood cepat terganggu
  4. Nyeri sendi
  5. Nyeri pada punggung daerah bawah
  6. Gangguan tidur
  7. Rambut rontok
  8. Keringat berlebihan
  9. Gangguan pencernaan

Ingat ya, gejala tersebut di atas bisa terjadi karena kekurangan Vitamin D, bukan sudah pasti disebabkan karena Vitamin D.

5. Tiga Sumber Untuk Mendapatkan Vitamin D

Ada 3 sumber untuk mendapatkan Vitamin D, yaitu:

  •  Makanan

“Sebenarnya dari makanan tidak banyak, hanya 10-15%. Makanan yang vegan/vegetarian bisa dari jamur shitake. Bukan sembarang jamur shitake, tapi yang dalam proses pengeringannya dijemur matahari. Kandungan vitamin D dalam 50 gram jamur bisa mencapai 1600 IU (tergantung proses penjemurannya).  Selain itu bisa juga makanan yang difortifikasi vitamin D,”ungkap dokter Lusia.

  • Suplementasi

Kebutuhan akan suplementasi tergantung dari usia dan kondisi (defisiensi atau tidak). Normalnya, dosis harian pada kondisi pemeliharaan untuk orang dewasa adalah 600-800 IU.

Angka normal untuk Vitamin D adalah di atas 30 ng/mL.

Antara 20-30 ng/mL isufisiensi (tidak cukup)

Di bawah 20 ng/mL defisiensi (kurang)

“Banyak dokter lebih menyarankan untuk menjaganya di angka ideal 40-60 ng/mL untuk mencegah berbagai penyakit tadi,” ungkap doker Lusia.

Angka maksimal adalah 100. Lebih dari 100 akan keracunan. “Meski begitu, kasus toksisitas atau keracunan sangat jarang. Perlu diperhatikan jika konsumsi vitamin D di atas 10,000 IU. Jadi tidak perlu khawatir dengan suplementasi. Setelah konsumsi,  periksa lagi darah dalam 3-6 bulan untuk melihat perkembangannya.

  • Sinar Matahari

Pro vitamin D (precursor vitamin D) terletak di bawah kulit, di lapisan epidermis. Itulah sebabnya kita perlu matahari untuk mengubah pro vitamin D jadi vitamin D3 yang kemudian akan disalurkan ke hati dan ginjal untuk menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sumber vitamin D ada yang berasal  dari hewani dan nabati. Kalau dari sumber nabati Vitamin D2, sementara D3 bersumber dari hewani. D3 dalam komposisi disebut kolekalsiferol, sedangkan D2 adalah ergocalciferol. Kole merujuk pada bahan dari kolesterol.

6. Lama Berjemur Disesuaikan Dengan Kulit Anda 

Sinar matahari Gelombang B (UVB) ketika pagi hari masih tertutup atmosfer, sehingga kemampuan dia untuk sampai ke bumi masih kecil. Jika bayangan sinar matahari terhadap tubuh lebih pendek, pada saat ini kekuatan sinar gelombang B lebih besar, dan inilah sinar matahari yang kita inginkan.

Ada beberapa faktor sinar matahari mengubah Provitamin D menjadi vitamin D. Faktor inilah yang perlu kita perhatikan ketika kita berjemur.

  • Warna Kulit

Kita orang Indonesia pada umumnya ada di 2-4. Saudara-saudara kita di Indonesia Timur ada di bagian 5-6.

Makin gelap kulit, makin tinggi kandungan melatoninnya, sehingga menghambat sinar matahari masuk ke epidermis. Kebalikannya, pada kulit yang lebih putih, sinar matahari lebih mudah masuk. Jadi harus tahu jenis kulit kita.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) menganjurkan, untuk orang Indonesia, waktu yang paling tepat untuk berjemur adalah pukul 9 pagi, karena index UV pada saat itu masih cukup baik untuk kulit kita.

  • Index UV

Ketika berjemur, kita juga perlu perhatikan index UV untuk mengetahui indeks matahari. Pada index 1-2 atau yang berwarna hijau, kita bisa berjemur lama, tidak masalah. Pada saat index 3-7, jika kita keluar, gunakanlah pelindung kulit seperti payung. Semakin tinggi kita terpapar UV, risiko bagi kulit lebih besar.

Sebagai panduan, kita bisa mengacu pada Global Solar Index Ultra Violet yang dikeluarkan oleh WHO atau website BMKG. Banyak juga aplikasi UV index yang dapat Anda unduh. Aplikasi ini memberikan informasi berapa lama waktu yang Anda perlukan pada indeks UV tertentu dan ramalan uv indeks beberapa hari ke depan.

Berapa Lama Waktu Untuk Berjemur?

Secara umum 5 sampai 15 menit. Tergantung lagi jenis kulit. Lebih banyak bagian tubuh yang terpapar matahari akan lebih baik. Jadi perlu diperhatikan agar berjemur tidak pada posisi berdiri. Kalau tidak bisa berbaring, minimal duduk. Ada orang-orang tertentu yang kulit wajahnya rentan timbul flek, untuk itu kalau berjemur bisa pakai topi.

Kalau kita berjemur dengan luasan tubuh yang cukup banyak kita bisa mendapat Vitamin D hingga 3,000 IU. Seminggu 3x berjemur itu sudah cukup. Kalau misalnya defisiensi, ada baiknya dibantu suplementasi, tapi paparan sinar matahari tetap yang utama.

BACA JUGA : Tips Hadapi COVID-19 dengan Imunitas Tubuh yang Selaras