Terapi Seni untuk Penyembuhan

0
495

Anda pencinta seni, atau mendapati diri Anda merasa nyaman dan tenang saat menggambar atau mewarnai? Terapi ini mungkin cocok bagi Anda.

Mempelajari bagaimana seni dapat menjadi alat untuk mendapatkan keseimbangan emosi dan mental, juga penyembuhan (healing) adalah hal yang sangat menyenangkan juga ilmu yang berharga. Pada waktu lalu, Sabtu, 2 September 2017, di ART+i (Art Therapy Jakarta), Paprika Living sebagai media partner mengikuti workshop pengenalan “Art Therapy: Level Basic”, di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. ART+i merupakan tempat pelayanan kesehatan mental yang beranggotakan terapis seni dan psikolog berlisensi.

Menurut British Association of Art Therapist, terapi seni merupakan bentuk psikoterapi yang menggunakan seni sebagai bentuk komunikasi dan ekspresi. Bisa juga menjadi modalitas yang dapat membantu individu dari segala usia atau latar belakang. Fungsi utama terapi seni, menurut penggerak Art Therapy di dunia, Cathy A. Malchiodi, PhD, adalah untuk menciptakan makna dan mencapai visi dalam hidup seseorang, melepaskan emosi berlebihan atau trauma, menyelesaikan konflik dan masalah, memperkaya kehidupan sehari-hari dan mencapai rasa kepuasan batin.

Terapi seni rupa ini bersifat non-verbal sehingga sangat berguna bagi orang-orang yang membutuhkan terapi dengan pendekatan yang berbeda dari terapi verbal, contohnya klien yang belum bisa berbicara seperti anak balita, klien yang telah kehilangan kemampuan verbal, atau klien yang tidak mampu menceritakan pengalamannya secara verbal (klien dengan trauma berat, atau yang mempunyai masalah yang terpendam).

“Orang yang datang ke sini biasanya orang yang punya masalah psikologis, ada juga yang berhubungan dengan masalah fisik, misalnya memiliki sakit berat dan kehilangan kepercayaan dirinya, contoh lain klien yang mempunyai pandangan buruk tentang dirinya kemudian punya eating disorder, atau klien autistik,” ujar Art Therapist ART+i, Mutia Ribowo.

Walau begitu tak mesti pencinta seni yang bisa diterapi di ART+i, “Kadang klien yang datang juga sudah lama tidak menggambar, sudah lupa caranya. Atau malah tidak bisa gambar.  Yang penting orang tersebut mau terbuka dan belajar,” tambahnya. Klien yang mengikuti terapi seni tidak diharuskan membuat sesuatu yang “menyenangkan” mata orang lain. Melainkan lebih ke memindahkan ekspresi dan perasaannya ke dalam bentuk seni rupa, apa pun bentuknya,

Selain bersifat non-verbal, terapi seni bersifat ekspresif dan memiliki beragam sarana yaitu media seni yang memberikan efek terapeutik yang berbeda-beda. Dengan panduan terapis seni, klien dibimbing dalam menggunakan alat seni yang sesuai dengan kebutuhannya. “Tools-nya bermacam-macam sekali, kita menghadirkan seperti art ‘buffet’ yang bisa dipilih sesuai keinginan dan kebutuhan klien,” Mutia menjelaskan.

Terapi seni rupa dengan pendekatan Psikoanalisa ini bertujuan untuk lebih mengerti dan mengenal klien, selain pemberian direktif atau instruksi berbentuk tematis (diri, dinamika keluarga, kekuatan, ketakutan, dan lain-lain), terapis seni juga memberikan direktif asosiasi bebas (Free Association). Pendekatan ini berasal dari keyakinan Sigmund Freud, dimana tahap utama dari psikoterapi psikoanalisa adalah untuk membawa ketidaksadaran (unconscious) atau ingatan yang terpendam (repressed memories) ke permukaan menjadi kesadaran (conscious). Apabila berhasil, klien diharapkan mencapai katarsis (catharsis) yang kemudian klien dipandu oleh terapis untuk melakukan kegiatan–kegiatan untuk menyelesaikan masalahnya (reflection, closure, change, forgiveness, apology).

Art therapy itu membutuhkan terapis, harus ada hubungan triangular antara terapis, klien, dan karya seninya. Hasil karyanya biasanya disimpan sepanjang sesi terapi sebagai bahan interpretasi perkembangan dan diskusi bersama klien. Setelah terapi selesai bisa dibawa pulang setiap karyanya.” Art Therapist lainnya dari ART+i, Cindy Harjatanaya menjelaskan.

Workshop ini didesain dengan kapasitas peserta yang terbatas dengan tujuan memberikan peluang bagi peserta-peserta untuk bertanya dan berdiskusi secara intensif. Dibuka oleh Aulia Irawan sebagai General Manager ART+i, dan teori dan prakteknya disampaikan dan dipandu oleh dua penggagas sekaligus Art Therapists dari ART+i, Mutia Ribowo dan Cindy Harjatanaya. Keduanya memiliki Master Degree in Art Therapy dari salah satu perguruan tinggi di Singapura.

Terapi seni rupa dipaparkan secara komprehensif dan santai agar peserta memiliki gambaran mengenai peran dan manfaat terapi seni dalam proses penyembuhan (healing). Dari mulai sejarahnya kemudian dijelaskan pula perbedaan Art Therapy, Art Psychotherapy, Therapeutic Art, dan Art Education, hingga bersama-sama mempraktekan terapi seni dan sharing. Benar-benar kegiatan seru di akhir pekan.

Sumber foto: artbusinessnews.com, psychologytoday.com