Suka Marah-marah Bikin Cepat Tua?

0
3137
marah

Anda pasti pernah mendengar beberapa pernyataan ini:

“Jangan cepat marah, nanti cepat tua lho…”

Entah kenapa emosi, kemarahan, kerap dikaitkan dengan pertambahan usia. Ternyata bukan hanya sebagai ungkapan kekesalan dan bikin kesal, menurut penelitian suka marah-marah memang bikin cepat tua, lho!

Menurut hasil penelitian psikologi yang dilakukan oleh Scripps Center for Integrative Medicine di San Diego California, stres akan mempercepat proses penuaan. Ini disebabkan oleh peningkatan hormon kortisol yang berkaitan dengan stres kronis.

Lekas marah juga bisa meningkatkan risiko osteoporosis, penambahan berat badan, kehilangan ingatan, penurunan kognitif dan elastisitas kulit. Hal ini dibenarkan oleh dr. Ratna Mardiati, SpKJ dari Klinik Angsamerah.

“Hormon stres berkepanjangan yang disertai dengan kemarahan dapat menghancurkan neuron (sel saraf)  di area otak yang terkait dengan penilaian dan memori jangka pendek. Ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh,” jelas dr. Ratna.

BACA JUGA: Menyikapi Tingginya Angka Bunuh Diri di Indonesia

Lebih lanjut dr. Ratna menambahkan kalau sejatinya kemarahan adalah emosi manusia yang normal dan biasanya sehat. Ketika menjadi tidak terkendali, di momen inilah emosi tersebut menjadi destruktif. Tidak hanya menyebabkan masalah di tempat kerja, tetapi juga memberikan gangguan pada hubungan pribadi, serta kualitas hidup orang tersebut.

Sumber Kemarahan

Ada banyak sumber kemarahan, ketika beban datang bertubi-tubi, pikiran sedang penuh, sangat bisa membuat Anda cepat tersinggung. Masalah keuangan, mengalami kekerasan, situasi lingkungan sosial yang buruk akan menguras waktu dan tenaga seseorang sehingga menyebabkannya menjadi lekas emosi.

Orang yang merasa bersalah seringkali mudah marah atau emosional ketika berhadapan dengan sesuatu yang memicu rasa bersalahnya. Biasanya, pengakuan atau rasa bersalah muncul dalam bentuk penolakan cepat. Kebanyakan orang yang bersalah mudah ditangkap emosinya, mereka merasa malu sehingga mereka cepat menyangkal dan menjadi marah.

Umumnya akar kemarahan adalah rasa ketakutan,  sakit, dan frustrasi. Sebagai contoh, beberapa orang menjadi marah sebagai reaksi ketakutan terhadap ketidakpastian, takut kehilangan pekerjaan, atau takut gagal. Sedangkan penyebab marah lainnya adalah ketika mereka terluka dalam suatu hubungan atau sakit hati, tersinggung oleh ucapan teman dekat.

BACA JUGA: Penduduk Indonesia Paling Cepat Menikah, Dampak Sosial Media?

Marah juga dapat berasal dari trauma masa lalu ketika proses terjadinya pembentukan kepribadian seseorang. Dalam beberapa kasus, perubahan hormon juga dapat menyebabkan kemarahan, seperti pada pra menstruasi.

Selain lingkungan, marah juga terkait dengan genetik. Ternyata terdapat zat kimiawi dan hormon yang berperan terhadap kemarahan serta pengendaliannya. Ketika otak bereaksi tidak normal terhadap serotonin, maka seseorang menjadi sulit dalam hal mengendalikan emosi.

“Marah adalah kondisi yang normal, tapi ketika Anda menjadi sangat mudah tersinggung dang membayangkan akan melukai seseorang atau malah melukai diri sendiri, itu pertanda Anda mengalami gangguan marah,” jelas dr. Ratna.

Kemarahan yang tidak terselesaikan akan membuat kecemasan, berdampak panjang pada kualitas hidup. Kecemasan yang disebabkan karena menahan amarah dapat membuat kepala pening, berat, tegang, sakit kepala, otot kaku, sulit konsentrasi dan sulit mengingat.

Ratna juga menambahkan, seiring pertambahan usia sebenarnya tidak terdapat perbedaan tingkat kemarahan pada laki-laki dan perempuan. Semua orang dalam rentang usia berapapun bisa mengalami kemarahan. Namun pada perempuan, kebanyakan lebih diekspresikan melalui fisik dengan gejala menyalahkan orang lain.

BACA JUGA: Seni Sebagai Terapi untuk Mental Disorder