Sleep Apnea: Mendengkur dan Kematian

0
3412
gangguan tidur

Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, dalam wawancara di program Kick Andy, Metro TV menceritakan bagaimana beliau kehilangan putranya akibat Sleep Apnea.

Belum lama berselang, saya dikejutkan dengan wafatnya Mike Mohede saat tidur siang di rumahnya di bilangan Bintaro. Seorang penyanyi muda yang saya kagumi.

Walau tak diketahui secara pasti, orang banyak menebak serangan jantung sebagai penyebabnya. Serangan jantung memang yang paling sering sebabkan kematian mendadak.

  • Tapi, apa yang bisa sebabkan serangan jantung saat tidur?

Seperti yang terjadi pada putra Bu Susi, Sleep Apnea.

Sleep Apnea: Mendengkur

Sleep Apnea, artinya henti napas saat tidur, masih sangat diremehkan di Indonesia. Padahal penelitian Indonesian Society of Sleep Medicine mendapati angka yang tidak kecil.

Di Jakarta saja penderitanya mencapai 20%, tak berbeda jauh dengan data negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Jepang.

Perhatikan Dua Gejala Utama Sleep Apnea

Mungkin masih diabaikan karena gejalanya yang sangat biasa, mendengkur. Dua gejala utama Sleep Apnea adalah ngorok dan kantuk berlebihan di siang hari (hipersomnia).

Pada saat tidur, saluran napas rileks melemas hingga menyempit. Akibatnya walau ada gerakan napas, tak ada udara yang bisa lewat.

Seperti tercekik, saat tidur pendengkur akan terbangun sejenak dan lalu tidur kembali. Bayangkan jika seseorang terbangun singkat ratusan kali sepanjang malam tanpa terjaga.

Saat bangun ia akan merasa tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari. Tak heran jika pendengkur di Inggris Raya dilarang berkendara.

Akibat henti napas, berulang kali oksigen turun naik, dan efek pada jantung juga tak bisa dianggap remeh.

Berulang kali denyut jantung menjadi pelan dan lalu cepat saat tidur. Ya, artikel di Laryngoscope pada tahun 2013 menyatakan bahwa mendengkur lebih berbahaya bagi jantung dibanding kolesterol tinggi dan kebiasaan merokok.

Perawatan untuk Penyakit Sleep Apnea

#1. Pertama, pendengkur harus diperiksakan tidurnya di laboratorium tidur. Pemeriksaan dengan alat bernama polisomnografi ini untuk mendiagnosis apakah dengkuran seseorang itu wajar atau ada henti napasnya. Derajat dan jenis Sleep Apnea juga jadi diketahui.

Dari hasil pemeriksaan akan nanti diketahui apa perawatan yang tepat bagi penderita. Apakah harus lewat pembedahan, penggunaan dental appliances oleh dokter gigi atau dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

#2. Saat ini, berbagai bukti ilmiah terus membuktikan bahaya dengkuran. Sleep Apnea telah dikenali sebagai penyebab:

  1. Hipertensi
  2. Diabetes
  3. Berbagai penyakit jantung
  4. Disfungsi ereksi
  5. Kematian

Sleep Apnea sangat berbahaya dan mudah dikenali. Sayang jika diabaikan begitu saja. Jika ada sahabat atau kerabat tidur ngorok, jangan ditertawakan tapi peringatkan untuk segera memeriksakan diri. Anda bisa selamatkan nyawa.

Akhir kata, Mike, rupanya Tuhan ingin kamu menyanyi untuknya. I’ll treasure your autographed CD. See you…

Artikel ini diterbitkan dengan ijin dari dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Sleep Physician, Sleep Disorder Clinic RS. Mitra Kemayoran
www.andreasprasadja.com
Ikuti dr andreas di twitter @prasadja

Untuk mengetahui sekilas gambaran seperti apa sleep apnea, Anda bisa menyimak video yang merekam aktivitas tidur seorang penderita sleep apnea yang parah.

Untuk mengetahui lebih banyak riset tentang tidur, Anda dapat mengunjungi website World Sleep Day.