Seni sebagai Terapi untuk Mental Disorder

0
169
seni terapi kesehatan mental
(kiri ke kanan) Addhi Chandra (psikolog klinis dari Yayasan Bagi Hati Bagi Jiwa), survivor mental disorder Lizzie Delonge (bipolar, depresi, eating disorder) dan juga Gabz Sutanto (passive-aggressive disorder) dalam talkshow di event Journey to Find You, Sabtu (29/6), Jakarta.

Setiap hari saya berjuang melawan rasa sakit, kegelisahan, dan ketakutan. Satu-satunya metode yang saya temukan untuk meringankan penyakit mental saya adalah dengan terus menciptakan seni. Saya mengikuti alur seni dan entah bagaimana menemukan cara yang memungkinkan saya untuk terus hidup.

Pernyataan ini diungkapkan oleh seniman kontemporer Yayoi Kusama yang terkenal dengan pola polkadot dalam setiap karya-karyanya. Menurut psikolog klinis dari Yayasan Bagi Hati Bagi Jiwa Indonesia, Addhi Chandra, seni sejatinya merupakan platform positif untuk pengidap mental disorder dalam menyalurkan emosinya.

Pengidap mental disorder biasanya cenderung berperilaku destruktif untuk dirinya sendiri/orang lain, ketika sedang berada dalam suatu episode. Ketika rasa sakit menjadikan platform untuk  mengungkapkan perasaan, emosi yang berkecamuk di dalam diri, tidak hanya mewujud sebagai media penyembuh, sejatinya seni bisa membuat orang-orang umum semakin menyadari pentingnya mental health awareness.

Hal ini disampaikan Addhi Chandra dalam rangkaian acara Journey to Find You (Mental Health Awareness Through), Sabtu (29/6) di Menara Citibank 8th Floor, Jakarta. Dua survivor mental disorder yang hadir dalam event tersebut– disorder Lizzie Delonge (bipolar, depresi, eating disorder) dan juga Gabz Sutanto (passive-aggressive disorder), menceritakan pengalaman mereka bertahan dengan kondisi kesehatan psikisnya.

BACA JUGA: Stres Karena Belum Dapat Pekerjaan? Begini Cara Mengatasinya!

Lizzie bercerita, setiap kali mood-nya mau down, dia langsung memasak, karena inilah yang disenanginya. Berbeda dengan Lizzie, Gabz memilih musik sebagai “terapi” untuknya. “Setiap orang dengan mental yang terganggu, ketika dia berhasil bertahan melalui kondisi tersebut, itu akan menjadi kekuatan buatnya,” demikian Addhi menambahkan.

Terpenting adalah bagaimana penerimaan diri sendiri terhadap kondisi yang dialami. Kalau sudah ada penerimaan terhadap diri sendiri, lingkungan tidak akan punya kekuatan untuk mempengaruhi kondisi emosi kita.

Bukan Soal Menghentikan Ombak

Kesehatan mental itu ibarat deburan, hentakan ombak di laut. Bukan persoalan bagaimana menghentikannya, melainkan cara melaluinya. Bukan tak mungkin justru malah Anda bisa berselancar di atas ombak.

Ketika orang-orang di lingkunganmu tidak bisa memberikan dukungan yang dibutuhkan, keluar dan carilah lingkungan sehat dimana Anda bisa merasa lebih baik secara mental. Ini bukan bentuk keegoisan, melainkan upaya menyelamatkan diri sendiri dan orang-orang yang beririsan dengan Anda.

BACA JUGA: Kenapa Kesepian Bisa Membuat Tubuh Sakit?