Sayangi Lansia, Kenali Sindrom Geriatri

0
72
lansia

Di tengah pandemi ini, orang lanjut usia (Lansia) menjadi sorotan karena mereka salah satu kelompok yang rentan menderita infeksi berat bahkan kematian akibat virus Corona yang sudah menginfeksi lebih dari 900 ribu orang di seluruh dunia ini.

Sebuah penelitian pada akhir Februari di Journal of the American Medical Association menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun menyumbang hanya 1% dari semua kasus COVID-19, sementara orang dewasa dalam kelompok usia 30-79 sebanyak 87%. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menemukan sesuatu yang serupa di Cina, 78% pasien adalah mereka yang berusia antara usia 30 dan 69 tahun.

Untuk keselamatan para senior, kita yang lebih muda wajib memberikan ekstra perlindungan termasuk ekstra kasih sayang karena di masa ini Lansia tidak hanya menghadapi virus, namun juga gangguan-gangguan fungsi yang sudah mulai dirasakan.

Di Indonesia, Lansia merujuk pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Di usia inilah beberapa gejala seperti kemunduran pendengaran, pengecapan, penglihatan muncul. Gejala ini disebut Giant Geriatric Syndromes.

Kenapa kita harus peduli? Karena kondisi yang terjadi pada mereka mungkin tidak kita sadari, namun berdampak besar pada kualitas hidup sang Lansia, kecacatan, bahkan risiko kematian.

“Giant Geriatric Syndromes adalah suatu kumpulan gejala dan atau tanda klinis yang dapat ditemukan pada pasien lansia, yang mungkin kita tidak sadari dan memberikan efek yang besar untuk ganguan fungsi untuk pasien lansia tersebut.

Giant merujuk pada besarnya efek yang ditimbulkan kepada pasien lansia tersebut,”jelas Hildebrand Hanoch Victor Watupongoh, SpPD, Staf Pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UKI/RSU UKI pada PaprikaLiving.

Lebih lanjut, dokter Hanoch menjelaskan 14 kondisi dan atau gejala & tanda klinis yang menjadikan seorang pasien lansia mengalami gangguan fungsi. Tiga contoh diantaranya adalah:

  • Imobilisasi: kondisi pada saat pasien Lansia tidak dapat bergerak atau hanya dapat tidur terlentang. Penyebabnya macam-macam, salah satunya stroke.
  • Instability: suatu kondisi ketidakstabilan pada pasien lansia yang dapat menyebabkan jatuh.
  • Impairment of cognitive: kondisi kemunduran fungsi kognitif atau ingatan.

Gangguan Tidur Hingga Penurunan Indera 

Kondisi “Giant Geriatric” inilah yang bisa menyebabkan berbagai gangguan fungsi pada Lansia antara lain:

  • Gangguan tidur
  • Delirium, kondisi berupa kebingungan parah yang terjadi secara tiba-tiba
  • Inkontinensia urine, kondisi sulit menahan buang air kecil, sehingga jadi mengompol
  • Lemah
  • Demensia, sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat dan berpikir.
  • Risiko terjatuh
  • Pusing
  • Susah makan
  • Malnutrisi atau kurang gizi
  • Gangguan pendengaran dan penglihatan
  • Osteopenia (penurunan kepadatan tulang) atau osteoporosis

Maka itu jika kita memiliki anggota keluarga yang sudah berusia di atas 60 tahun, baik untuk kita melakukan general check up. “Biasanya kita mengecek lab cukup lengkap, darah lengkap, gula darah, profil lemak, fungsi ginjal, albumin,”ujar dokter Hanoch.

Keep Active, Keep Moving

Selama masih bisa aktif, kita harus membiarkan agar Lansia tetap bergerak. Prinsipnya, pesan dokter Hanoch adalah Keep active, Keep moving.

“Memang terkadang kita kasihan melihat orangtua ataupun kakek nenek kita bergerak, tetapi lebih kasihan lagi untuk mereka kalau selalu dibantu, karena akhirnya kemandirian tidak akan terbentuk.”

“Salah satu bentuk mencintai Lansia adalah dengan ‘membiarkan’ lansia itu tetap mandiri selama mungkin. Dan jangan lupa, kita akan menjadi seperti mereka di masa mendatang, jadi tetaplah hidup sehat dan mencintai Lansia,”tutup dokter Hanoch.

BACA JUGA: Mereka Yang Suka Membaca, Hidup Lebih Lama