Renewable Energy untuk Mendukung Swasembada Pangan Indonesia

0
420

Pada Jumat, 29 September 2017 lalu bertempat di Jiexpo Kemayoran, PT Surya Utama Nuansa (SUN) bersama dengan perwakilan direktorat Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jendral Perkebunan, dan kementrian pertanian menggelar seminar teknologi yang sangat menarik bertajuk “Advancing Agricultiral Industry  Using Renewable Energy Solutions”. Seminar ini menjadi bukti nyata yang dilakukan untuk menjawab permasalahan petani gula dalam menyiasati penggunaan bahan bakar premium yang berdampak pada membengkaknya biaya pengeluaran pada sistem pengairan sawah dan juga pada lingkungan sekitarnya.

Faktanya, laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat dalam 10 tahun terakhir (2006 – 2017), yaitu dengan rata-rata peningkatan hingga 1.3% per tahun, berbanding lurus dengan meningkatnya kaburuhan pangan. Sedangkan kondisi jumlah produksi gula di Indonesia dalam 9 tahun terakhir masih memiliki gap yang sangat tinggi jika dibandingkan kengan kebutuhannya. Direktorat Jendral Catatan Sipil dan Kependudukan mencatat total produksi gula di Indonesia tahun 2017–2016 sebesar 2.9 juta ton sementara kebutuhan gula mencapai 5.9jt ton.

Salah satu pembicara dalam seminar ini adalah Bapak Ir. Gede Wirasuta, Kepala Sub Direktorat Tanaman Tebu dan Pemanis Lain, Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah berpendapat,  “Gula merupakan komoditas strategis. Keberhasilan industri gula tidak hanya dinilai dari kemampuan swasembada, namun harus pula mampu meningkatkan daya saing di era perdagangan bebas dan kesejahteraan petani. Maka, diperlukan inisiatif dari pemerintah yang dapat menciptakan kedaulatan pangan untuk mencapai keberhasilan itu, salah satunya melalui pengadaan perairan, karena mayoritas pengembangan perkebunan tebu berada di lahan tegalan sulit air.”

Sementara itu, CEO PT SUN, Ryan Putera Pratama Manafe mengungkapkan, “Irigasi yang andal dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Tetapi, hingga kini, para petani, terutama di Pulau Jawa masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan sistem irigasi andal karena keterbatasan pasokan listrik. Begitu pentingnya irigasi yang baik, namun masih sulit untuk mendapatkannya. “

Berangkat dari kondisi tersebut, melalui seminar ini diperkenalkan pentingnya panel surya sebagai sumber energi alternatif yang dapat menghasilkan sistem kelistrikan yang optimal. Pompa dengan teknologi ini bekerja dengan prinsip mengubah energi listrik menjadi mekanikal untuk memompa air. Listrik tersebut dapat digunakan secara langsung atau disimpan kembali. Ini yang membuat sistem pengairan usaha tani bekerja secara efektif, efisien, dan produktif. Sistem pompa ini tidak memerlukan bahan bakar serta ramah lingkingan karena pengoperasiannya tidak hanya hemat biaya tetapi juga tidak menghasilkan polusi suara dan udara.

Tidak hanya itu, radiasi sinar matahari dengan jumlah yang tepat justru dapat memeprcepat laju produksi hasil panen menjadi lebih maksimal. Jenis-jenis pengembangan tanaman seperti tebu dan sawit justru membutuhkan radiasi sinar matahari yang banyak. Radiasi matahari diperlukan untuk membentuk hormon tumbuh yang akan mengatur pertunasan dan perpanjangan batang tebu, dan yang paling utama adalah untuk proses fotosintesis tentunya. Dari proses alami ini akan dihasilkan gula/ sukrosa. So, sistem pengairan hemat energi yang ramah lingkungan ini merupakan terobosan inovatif untuk menciptakan industri pertanian yang berstandar internasional dan juga kesejahteraan petani yang merata.