Ramadan Ramah Lingkungan

0
90
max mandias

Sampah Kemasan Plastik Penyumbang Terbesar 

Sampah plastik telah menjadi masalah besar, bukan hanya Indonesia, tapi seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, berdasarkan laporan Greenpeace, kemasan plastik dari hasil konsumsi makanan menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah plastik.

Volume sampah kemasan cenderung meningkat sebesar 1-6% per tahun, seiring bertambahnya jumlah penduduk, serta kegiatan konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada makanan siap saji.

juru kampanye greenpeace

“Bisnis makanan dan minuman yang terus meningkat menjadi bumerang bagi lingkungan seiring dengan penggunaan plastik sekali pakai sebagai kemasannya. Food packaging, apalagi sedotan paling banyak kita temukan saat kami melakukan kegiatan bersih-bersih pantai,” jelas Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, pada acara Ramadan Ramah Lingkungan, di Burgreens, Menteng, Jakarta (28/5).

Organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia menemukan kemasan plastik sebanyak 4.556 buah, saat mereka melakukan kegiatan bersih-bersih pantai bersama dengan komunitas lokal di tiga lokasi, yaitu pantai Pandansari-Yogyakarta, pantai Kuk Cituis-Banten, dan pantai Mertasari-Bali.

“Ternyata semua pantai rata-rata tercemar. Bahkan, kita datangi salah satu pantai yang bukan pantai wisata dan itu sama tercemarnya dengan pantai-pantai wisata,” ujar Muharram.

Dalam momentum bulan puasa, Greenpeace bersama Nadhlatul Ulama berusaha mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan akan kondisi sampah plastik terkini, dan juga untuk memulai gaya hidup berkelanjutan.

“Di lingkungan NU, kami telah mulai mengadakan Ngaji Plastik, yakni salah satu langkah untuk mengedukasi umat untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai,” kata Fitria Ariyani selaku Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI Nadhlatul Ulama.

Nadhlatul Ulama pun mendorong pemerintah dan para perusahaan agar melakukan tindakan sesuai perundang-undangan yang berlaku seperti Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengolahan Sampah.

Mau “Ribet” Untuk Kurangi Plastik 

Menurut Max Mandias, praktisi gaya hidup berkelanjutan sekaligus Co-Founder & Executive Chef Burgreens, upaya yang bisa kita lakukan yaitu sebisa mungkin menekan penggunaan plastik dan barang lain yang hanya menambah sampah lingkungan. Selain itu, untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan harus dilakukan secara bertahap.

“Bertahap gitu sih kalau dari aku sendiri. Gak usah langsung 100% menjadi seorang yang eco banget. Karena untuk menjadi seorang yang zero waste gak bisa seinstan itu,” ujar Max.

Selain itu, Max berpendapat bahwa setidaknya kita harus mau ‘ribet’ untuk membawa segala kebutuhan yang dapat dipakai berkali-kali, seperti kantong belanja, sedotan stainless, rantang makanan, dan tempat minum. Hal-hal tersebut sebenarnya simple dan mudah jika dilakukan terus-menerus.

“Yang terpenting kita mulai dari diri sendiri, dan melakukannya happy. Supaya cepat menularkan (kebiasaan ramah lingkungan) ke orang lain, ke orang-orang sekitar kita,” kata Max.

BACA JUGA: Yuk, Terapkan Ramadhan Hijau dengan 4 Cara Ini!