Bagaimana Cara Mengolah Tanaman Herbal?

0
62
jamu paprika living

Tanaman herbal sekarang sedang happening. Apalagi sejak ada informasi kalau bajakah sebagai salah satu tanaman tradisional dari Kalimantan berpotensi untuk digunakan sebagai pengobatan kanker.

Informasi mengenai pelbagai jenis dan manfaat tanaman herbal pastinya sudah sering Anda dengar, namun cara pengolahannya masih rancu, karena tidak ada standar baku.

Beberapa waktu lalu Komunitas Paprika Loca mengadakan diskusi mengenai pengolahan tanaman herbal bersama dr Rianti Maharani, M.Si, dokter herbal medik yang juga anggota Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI). Berikut isi sharing-nya!

SHARING SESSION:

Paprika Living: Nah bersama kita sudah hadir Dokter Rianti, yang minggu lalu mengisi materi tanaman herbal. Halo dokter…

dr. Rianti Maharani: Halo… Ada yang tahu tanaman ini?

Daun kepel sudah digunakan untuk resep jamu yang sudah teruji kepada manusia lho. Penelitian ilmiah pada hewan coba, sudah dilakukan untuk melihat potensi ekstrak daun kepel dalam menurunkan asam urat dibandingkan obat asam urat alopurinol.

Hasilnya, daun kepel memiliki potensi sebagai penurun kadar asam urat dalam darah tikus, dan efel ekstrak etanol dalam heksan terhadap asam urat setara dengan alopurinol.

Jadi daun kepel ini digunakan untuk resep jamu yang tersintifikasi yakni jamu asam urat. Selain asam urat, secara pengalaman turun temurun juga digunakan untuk menurunkan kolesterol dan gula darah.

Selanjutnya adalah Kayu Secang.

Kayu secang, mungkin tidak aneh untuk yang tinggal di jawa, banyak sekali kayu secang ini mungkin secara tidak sengaja sering teman-teman cicipi di wedang uwuh kalau pas jalan jalan ke Jogjakarta.
Ternyata penelitiannya sudah lengkap lho, tidak hanya sekedar resep jamu turun temurun.
Secara empiris Kayu Secang memiliki khasiat untuk mengobati nyeri sendi, diare, radang mata.

Kandungan kimia Kayu Secang antara lain:

Fenolik, Flavanoid, Tanin, Polifenol, Kardenolin, Sappan Chalcone, Caesalpin, Resin, Resorsin, Brazilin (senyawa yang memberikan warna merah pada secang), D-alfa phaliandren, Ascimen, Minyak Atsiri

Kandungan kimianya, luar biasa bukan? Kalau tidak tahu manfaatnya mungkin kita anggap wedang secang atau wedang uwuh hanya minuman yang menyegarkan saja.

Selain itu secang juga bisa berfungsi sebagai antinyeri yang merupakan salah satu gejala pada penderita asam urat tinggi, malah khasiatnya sama dengan obat antinyeri parasetamol.
Saat ini ada 11 ramuan jamu yang oleh Kementrian Kesehatan yang sudah diujikan dan digunakan kepada pasien sehingga di Indonesia ada istilah dokter jamu yang sudah dilatih oleh kementerian kesehatan dalam penggunaan jamu tersebut.
Erni Astuti: Apakah ini di semua RS Dok?

dr. Rianti Maharani: Hanya diresepkan oleh dokter jamu di RS yang sudah bekerja sama atau klinik jamu yang sudah membuka praktek penyehatan tradisional.

Rianty Aryani Putri: Bedanya jamu sama herbal apa ya dok?
Dr. Rianti Maharani:  Jamu adalah penyehatan tradisional otentik indonesia, sama halnya ayuvreda di India, atau TCM dari Cina, jadi kita patut berbangga memiliki jamu, warisan nenek moyang. Untuk lebih jelas lagi ini perbedaannya:
  • Jamu

Bahan obat yang sediaannya masih berupa simplisia sederhana seperti irisan rimpang, dan atau akar kering. Sebuah ramuan disebut jamu jika telah digunakan masyarakat melewati 3 generasi.

  • Herbal

Jamu yang naik kelas setelah melewati uji praklinis meliputi in vibo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus gatur, kelinci atau hewan uji lain. Riset in vitro dilakukan uji pada sebagian organ atau pada cawan petri. Tujuannya untuk membuktikan klaim sebuah obat.

  • Fitofarmaka

Sebuah herbal terstandar dapat dinaikkan kelasnya menjadi fitofarmaka setelah melalui uji klinis pada manusia. Uji klinis terdiri atas single center yang dilakukan di laboratorium penelitian dan multicenter di berbagai lokasi agar lebih obyektif. Setelah lolos uji fitofarmaka, produsen dapat mengklaim produknya sebagai obat.
dr. Rianti Maharani: Kita bahas dulu ya bagaimana penggunaannya supaya diskusi tidak melebar.
Ini adalah tambahan informasi dari saya mengenai prinsip pemakaian tanaman obat:
dan berikut ini aturan meramu:
Materi terakhir malam ini  akan saya tutup dengan cara pembuatan simplisia yang sudah saya singgung sedikit minggu lalu.
Dan saya mau share juga bagaimana contoh memanfaatkan halaman rumah dengan menanam sayuran organik dan tanaman obat organik, kami menyebutnya SORGA dan TOGA.
Kebetulan tadi sore saya baru dikirimi foto dari Sumatera Selatan. Baik materi diskusi sudah saya sampaikan semuanya.
Paprika Living: Berarti kita sudah bisa buka sesi tanya jawab ya…
dr. Rianti Maharani: Oke, silahkan…
Paprika Living: Kenapa disebut SORGA dan TOGA ya dok?
dr. Rianti Maharani: Singkatan yang mudah diingat SORGA: Sayuran Organik sedangkan TOGA adalah Taman Obat Keluarga.
Paprika Living: Terkait kayu secang bagusnya pengolahannya dicampur dengan bahan lain atau gimana Dok?
dr. Rianti Maharani: Betul, bisa dengan jahe, lengkuas, daun salam.
Rianty Aryani Putri: Kalau untuk takarannya apa ada ketentuannya Dok?

dr. Rianti Maharani: Berikut resep Wedang Uwuh:

Bahan-bahan:
700 ml Air.
40 gr Serutan Kayu Secang Kering.
50 gr Gula Batu (atau Gula Pasir)
6 cm Jahe (Memarkan)
2 Lembar Daun Kayu Manis Kering.
3 Lembar Daun Cengkeh Kering.
3 Lembar Daun Pala Kering.
10 Butir Cengkeh (atau Batang Cengkeh)
Paprika Living: Perebusannya berapa lama Dok?
dr. Rianti Maharani: 10-15 menit dengan api kecil. Bisa juga jika bahan-bahan sudah dikeringkan, hanya diseduh dengan air panas saja bisa langung disajikan.
Paprika Living: Seberapa besar peranan takaran ramuan untuk kemanjuran khasiat Dok, apakah harus pas betul?
dr. Rianti Maharani: Rentang dosis untuk jamu atau herbal lebar, jadi kita bisa ditakar dengan ukuran rumah tangga yang saya jelaskan di atas.

Putri: Maaf jika sudah ada yang tanya, untuk khasiat apakah bahan yang dikeringkan terlebih dahulu lebih baik dari pada yang segar?                                                            dr. Rianti Maharani: Sama saja, silahkan menggunakan kedua caranya. Yang paling penting, hati-hati penggunaan untuk simplisia kering. Harus dilihat takutnya berjamur karena proses pengiringan yang kurang.

Paprika Living: Cara cegah berjamurnya gimana ya Dok?                                            dr. Rianti Maharani: Dengan cara cara benar-benar kering. Kadar air hanya 8-10 % saja. Ini ditandai dengan kalau kita remas, biasanya ada bunyi kress.

Paprika Living: Kalau misalnya tanaman segar herbal kita simpan di kulkas efektif nggak ya atau kandungannya bisa berkurang?                                                                        dr. Rianti Maharani: Efektif selama tidak berubah warna atau menjadi busuk.

Paprika Living: Nah sebelum kita tutup kira-kira dokter masih ada waktukah untuk bercerita sedikit mengenai bajakah yang lagi dibahas di media saat ini?                              dr. Rianti Maharani: Banyak tanaman-tanaman yang sudah diteliti untuk antikanker , termasuk tanaman bajakah dari Kalimantan yang lagi booming saat ini. Bajakah tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan menjadi obat tradisional.

Secara empiris, tanaman ini dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Tengah untuk berbagai penyakit. Berdasarkan penelitian, batang bajakah tampala mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tannin dan saponin.

Berdasarkan kandungan yang dimiliki oleh tanaman bajakah, sangat memungkinkan memiliki potensi sebagai antikanker, apalagi memang sudah diujikan kepada hewan coba untuk kanker payudara.

 

Artikel ini adalah rangkuman percakapan dalam diskusi Telegram antara dr. Rianti Maharani dari Aliksa Organik Indonesia dan anggota Komunitas Paprika Loca! Diskusi seputar isu kesehatan dan lingkungan diadakan tiap Rabu malam Pk.20.00 – 21.00. Jika Anda ingn bergabung, Anda klik link berikut ini : https://t.me/joinchat/HMrZHUmYHcsZB7PNiibZ4A

BACA JUGA: Hidup Sehat dan Bahagia dengan Teknik Pernapasan Sederhana