Nonton Film Joker Bisa Bikin Gila ?

0
1587
@jokermovie

“Jangan nonton Joker nanti jadi ikutan ‘gila’!”

“Nonton Joker bikin tertekan dan mengerutkan kening..”

“Seharusnya Joker tidak diputar di Indonesia karena bisa memicu kekerasan!”

Apakah akhir-akhir ini Anda mendapatkan pesan berantai di group WhatsApp terkait film yang dimainkan oleh Joaquin Phonenix yang menyampaikan hal sama? Seolah film Joker akan membuat seseorang menjadi kehilangan kewarasan. Apakah lantas memang benar demikian?

Kalau bisa berkomentar, mood menonton film Joker kurang lebih sama dengan Inception (2010) yang membuat penonton susah untuk membedakan yang mana yang nyata dan tidak. Namun Joker lebih “gelap” lagi, bukan hanya emosi tetapi psikologi pun terasa teraduk-aduk.

Walaupun sebagian orang menganggap film Joker bisa merusak akal, psikolog mengatakan film ini justru akan mengajarkan masyarakat awam mengenai apa itu gangguan mental.

BACA JUGA: Suka Marah-marah Bikin Cepat Tua?

Menurut Bobby Azarian Ph.D, seorang ahli saraf kognitif dari George Mason University, karakter Joker justru bisa mendidik masyarakat mengenai penyakit mental dan bagaimana cara mengatasinya.

Dalam beberapa adegan, digambarkan bagaimana perjuangan sang tokoh utama menghadapi kerasnya hidup, bullying, susahnya mencari kerja, merawat ibu yang sakit, rekan kerja yang tidak punya empati, belum lagi penyakit yang dimilikinya.

Dengan mengetahui informasi ini, penonton diajak untuk mencerna selalu ada sebab dari sebuah akibat. Bahwa sesungguhnya faktor sosial dan psikologis sangat dapat mendorong seseorang menjadi rentan secara mental.

Bobby pun menyarankan orang-orang untuk menonton film ini karena muatan kritik sosial terhadap layanan kesehatan mental dan kelas sosial yang jomplang, yang sejatinya sangat bisa memicu gangguan mental dan kekerasan.

Tidak sepenuhnya berbeda  dengan Bobby Azarian Ph.D, menurut Kendall Phillips pop culture professor dari Syracuse University film ini bisa juga memberi sinyal postif pada orang untuk melakukan kekerasan. Karena bisa jadi, citra kekerasan dalam film Joker menginspirasi orang untuk melakukan hal yang negatif.

BACA JUGA: Menyikapi Tingginya Angka Bunuh Diri di Indonesia

Dan sebenarnya ini bukan karena film Joker-nya melainkan pola pikir orang tersebut serta faktor-faktor yang lain. Kekerasan yang ditampilkan media sudah sering dianggap sebagai pemicu anak muda melakukan tindak kekerasan ataupun menjadi agresif. Jadi ini bukan sesuatu yang baru lagi.

Bisa Bikin “Gila”?

Menurut dr. Gina Anindyajati, SPKJ psikolog dari Angsamerah, orang yang sehat jiwanya akan mampu menghadapi dinamika perasaan dan tidak langsung terpengaruh dengan paparan faktor dari luar.

“Hidup sendiri sebenarnya sudah terisi dengan banyak tekanan, tanpa harus ada paparan dari media. Jalanan macet, kerjaan menumpuk, dan biaya hidup yang semakin mahal adalah hal-hal yang bisa merentankan kesehatan jiwa seseorang,” jelas dr.Gina.

Sebagai orang dewasa yang sehat kejiwaannya, tentu Anda punya kontrol terhadap apa yang layak dikonsumsi atau tidak. Kalau memang Anda merasa paparan film seperti Joker rasanya tidak akan baik untuk Anda, ya tidak usah ditonton.

Dan seperti yang dikatakan dr. Gina, orang yang sehat jiwanya pasti mampu menghadapi perubahan emosi dari apapun. Jika setelah menonton Joker Anda justru merasa mendapat inspirasi untuk melakukan perbuatan negatif, ini bisa menjadi sinyal untuk melakukan check-up kesehatan mental Anda.

BACA JUGA: Teh Kapulaga: Merawat Pencernaan Hingga Mengobati Mood Swing