Manfaat Sinar Matahari Untuk Suasana Hati

0
434

Kini, kebanyakan orang lebih sering mengabisakan waktu di dalam ruangan, di depan komputer, ataupun berjalan-jalan di dalam mall. Kita lebih cenderung untuk menghidari sinar matahari. Padahal, sinar matahari memberikan banyak manfaat untuk tubuh kita, mulai dari meningkatkan mood hingga energi, dan dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang.

Salah satu fakta ketergantungan seseorang terhadap manusia tergambar dalam kondisi yang dikenal dengan Seasonal Affective Disorder atau SAD. Istilah ini digunakan oleh Dr. Normal Rosenthal dari Universitas Georgetown untuk mendeskripsikan kondisi winter blues, yaitu perasaan lesu atau sedih dan tidak berdaya yang muncul ketika cuaca yang terjadi mengharuskan seseorang untuk menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan. Istilah ini juga mengacu pada suatu musim dengan exposure cahaya matahari yang lebih sedikit.  Beberapa ahli juga berspekulasi kalau gaya hidup modern dimana orang-orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan dengan pencahayaan buatan dapat meningkatkan SAD sepanjang tahun.

Rosethal menemukan bahwa bagi orang-orang yang bergantung pada sinar matahari, terpapar sinar matahari selama beberapa menit setiap pagi dapat meningkatkan mood dan energi mereka untuk menjalani hari.

Penelitian terhadap pekerja shift juga menegaskan bahwa sinar matahari memberikan dampak pada suasana hati seseorang. Mengacaukan siklus normal siang dan malam, seperti yang dilakukan oleh pekerja shift, dengan tidur di siang hari dan bekerja di malam hari, di bawah cahaya lampu, dapat mengganggu metabolisme tubuh. Hal ini juga menyebabkan efek domino pada tubuh, seperti : bagaimana menghasilkan energi dari makanan, seberapa kuat sistem imun kita, dan seberapa banyak hormon dan substansi lain yang mempengaruhi mood, berat badan, energi, dan sebagainya. Sebagai contoh, pekerja shift malam cenderung lebih berat dibandingkan mereka yang bekerja pada waktu normal.

Faktanya, orang-orang yang bekerja pada shift malam dan tidak mendapatkan cahaya matahari akan memproduksi homol melatonin lebih seikit daripada pekerja di shift siang. Produksi hormon melatonin sendiri sangat bergantung pada cahaya. Normalnya, seseorang akan memproduksi lebih banyak hormon melatonin pada malam hari, saat tubuh kita bersiap untuk tidur. Jumlah dari hormon melatonin akan kembali berkurang seiring dengan dengan banyaknya cahaya matahari yang kita terima pada pagi hari. Saat musim dingin, jumlah hormon melatonin dapat meningkat lebih cepat atau lebih lama, hal inilah yang menyebabkan perubahan mood seseorang dan berhubungan dengan terjadinya SAD. Penelitan terhadap pekerja shift juga menemukan bahwa kekurangan melatonin dapat menyebabkan turunnya hormon lain yang digunakan oleh tubuh untuk menysun DNA. Jika hal ini terus dibiarkan dapat benyebabkan mutasi sel-sel tubuh yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker.

Selain itu, beberapa penelitian lain menemukan bahwa siklus cahaya dapat membantu tubuh dalam mengatur produksi sel-sel darah dari sumsum tulang. Tetapi, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan hal ini, yang juga dibutuhkan untuk menentukan waktu transplantasi sumsum tulang belakang untuk pasien kanker sehungga dapat meningkatkan peluang terbentuknya sel darah yang cukup dari donor. Penolakan pada trasplantasi sumsum tulang belakang dapat dihindari, salah satunya, dengan bantuan cahaya ultraviolet. Sinar UV ini mengeliminasi sel-sel yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi penolakan.

Pengaruh terbesar cahaya matahari untuk kesehatan adalah pengaruhnya terhadap mood seseorang. Penelitian yang mempelajarai pengaruh ini berfokus pada hormon di otak yang secara langsung berhubungan dengan suasana hati kita, yaitu serotonin. Semakin tinggi jumlah serotonin berhubungan dengan semakin baiknya mood, menghadirkan perasaan puas dan tenang, serta mengurangi depresi dan kecemasan. Salah satu studi yang berasal dari Australia mnenyebutkan bahwa jumlah serotonin pada otak seseorang lebih banyak pada hari yang cerah.

Penelitian menarik lainnya adalah, kini, banyaknya orang yang menggunakan “tanning beds” mengisyaratan bahwa sinar ultraviolet dapat menciptakan perasaan bahagia sehingga membuat seseorang dapat sangat bergantung padanya. Tidak hanya hormon serotonin dan melatonin, sinar ultraviolet juga dapat mendorong terbentuknya melanosit, yaitu sel yang memproduksi pigmen gelap di kulit. Melanosit ini akan membantu tubuh untuk melepaskan endorfin, hormon yang membuat kita merasa lebih baik.

Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan hubungan antara sinar matahari, jumlah hormon di dalam tubuh, dan kondisi depresi musiman seseorang, tetapi hal ini belumlah cukup jelas. Terapi cahaya bermanfaat bagi mereka yang mengalami kondisi SAD, tetapi apakah terapi ini juga dapat membantu orang-orang yang mengalami depresi non-seasonal belumlah memiliki kejelasan. Kenyataanya, seseorang dengan keadaan SAD cenderung tidak menunjukkan adanya penurunan jumlah serotonin seperti yang terjadi pada orang yang mengalami depresi. Studipun tidak menemukan adanya perbedaan pada kondisi depresi saat hari cerah ataupun mendung/ hari dengan cahaya matahari lebih sedikit. Maka, kesimpulan sementara yang ditemukan melalui beberapa studi adalah cahaya matahari juga bermanfaat bagi penderita depresi karena dapat meningkatkan mood. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan pada kondis SAD.

So, dokter mungkin tidak akan menuliskan sinar matahari pada resepnya, tetapi, tidak ada salahnya untuk bangun dari kursimu, keluar dari ruangan di mana pun tempatmu saat ini, dan biarkan dirimu terpapar sinar matahari.

Sumber :http://www.health.com/syndication/why-sunlight-is-so-good-for-you