Makanan Bebas Gluten: Lebih Sehat Atau Hanya Strategi Marketing?

0
121
bebas gluten
Photo by Lubo Minar on Unsplash

Rasanya kita semua sudah memahami kalau makanan yang mengandung tepung terigu atau white flour tidak baik untuk sering-sering dikonsumsi. Karena itu orang-orang kemudian berpindah kepada tepung gandum. Soal roti misalnya, banyak yang meyakini kalau roti gandum (meski tidak jelas kadar dan kualitas gandumnya) sebagai pilihan lebih yang sehat dibanding roti putih.

Namun setelah itu bergulirlah isu kalau gluten juga tidak baik bagi kesehatan, dan mulai banyak orang yang mencari alternatif makanan yang gluten-free atau bebas gluten.

Kini kita bisa lihat di pasaran banyak produsen makanan menempelkan “bebas gluten” pada produknya. Gluten-free cookies, gluten-free bread, gluten-free cakes, dan lain-lain yang membuat mereka terdengar lebih sehat. Apakah mereka benar-benar lebih sehat, atau ini hanya tren kesehatan yang dimanfaatkan oleh produsen makanan?

Sebelumnya, mari kita pahami dulu apa itu gluten.

Gluten, khususnya gliadin dan glutenin adalah protein yang ada dalam gandum, barley, rye, spelt dan kamut. Pada orang-orang tertentu, kedua jenis gluten ini dapat memicu inflamasi yang menyebabkan masalah pencernaan seperti leaky gut dan reaksi autoimun. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh konsumsi gluten adalah Celiac disease.

Pada penderia celiac,  gluten akan membuat sistem kekebalan tubuhnya bereaksi, yang dapat merusak lapisan usus halus dan menghambat penyerapan nutrisi (malabsorpsi nutrisi). Setelah mengonsumsi gluten, pengidap celiac akan merasakan beragam gejala seperti diare, lemas, dan anemia.

Disamping itu, proses metabolisme gliadin akan menghasilkan exorphins yang akan memberi efek seperti morfin dalam tubuh kita, dan dapat juga memicu kegemukan.  Exorphins akan memberi dampak negatif pada kesehatan otak, mental, emosi dan perilaku, terutama untuk mereka yang mempunyai masalah autoimun, tiroid, autism, ADHD dan alergi.

Lalu banyak orang bertanya, rasanya dulu orang makan roti gandum atau makanan lain yang berbasis tepung hidupnya sehat-sehat saja, deh. Kenapa sekarang berbeda?  Berikut beberapa poin jawaban saya:

  • Gandum modern berbeda dari gandum jaman nenek moyang kita.  Gandum yang sekarang ada di pasaran telah  mengalami berbagai proses hibridisasi, manipulasi, radiasi, dan diproses secara agresif dengan berbagai zat kimia, dimulai dari pembibitan, penanaman hingga pengolahan.
  • Gandum sekarang mengandung gluten jauh lebih tinggi dibanding gandum jaman dulu
  • Beberapa pertanian gandum menyemprotkan herbisida roundup sebelum gandum dipanen sehingga menyisakan residu racun.
  • Nenek moyang kita tidak mengkonsumsi gandum berlebihan seperti masyarakat urban sekarang. Mereka bergaya hidup aktif, banyak bergerak.
  • Banyak masyarakat urban jaman sekarang yang mikrobiota tubuhnya tidak seimbang sehingga rentan mengalami masalah gluten sensitivity atau alergi gandum.

Kita juga bisa mengkonsumsi terlalu banyak gluten tanpa kita sadari, karena hampir semua produk jadi di pasaran saat ini mengandung gluten tersembunyi, misalnya saja dalam saus, suplemen, creamer, permen, ice cream, baking powder, hingga makanan vegan.

Lalu apakah kita harus meninggalkan gluten sama sekali? Jawaban singkatnya tidak, terutama jika Anda tidak memiliki masalah dengan gluten. Meski begitu, saya tetap menyarankan agar kita membatasi gluten. Mengonsumsi makanan bebas gluten itu baik, namun saya perlu ingatkan beberapa hal:

  • Produk gluten free tidak serta merta sehat, juga tidak serta merta organik, GMO, dan bebas 4P (pengawet, pemanis buatan, penyedap dan pewarna buatan). Jadi jangan sampai keliru memahami ini, dan cermatlah membaca label pada kemasan.
  • Banyak juga tersedia junk food dan tepung yang bebas gluten tetapi sudah rusak kandungan gizinya.
  • Secara umum sebagai panduan, grain yang dikategorikan gluten free (tepatnya gliadin dan glutenin free) adalah nasi, singkong, ubi-ubian, sorgum, quinoa, millet, buckwheat, oat (pilih yang berlabel gluten-free). Untuk pilihan tepung, yang bebas gluten adalah tepung kelapa, almond, mede,  tepung dari legumes, beras, sagu dan masih banyak lagi.

Pesan saya, sekalipun Anda tidak sensitif atau alergi terhadap gluten, tetaplah batasi asupan gandum dan produk olahannya seperti roti, pasta, mie, nugget, dan sejenisnya. Konsumsi secukupnya saja, karena apapun yang berlebih tidak baik bagi kesehatan.

Nah, jika Anda ingin menjaga kesehatan, tidak ada yang dapat menggantikan makanan segar, utuh, natural dan diproses secara minimal (wholesome food). Jadi makanan dalam kategori itulah yang paling baik untuk dikonsumsi!