Lingkaran Setan Itu Bernama Bullying

0
116
bullying

Dalam kegelapan Sue mengoral penis pria yang disukainya. Dan ketika si pria sudah orgasme, Sue mengusap bibirnya dan berujar, “Apakah aku cukup memuaskan?” Bukannya menjawab, si pria yang tidak kelihatan wajahnya ini malah menyuruh Sue keluar dari kamar gelap tersebut.

Ketika akhirnya Sue keluar, ternyata teman-teman sekolahnya sudah berkumpul, dan menertawakan Sue yang ternyata tidak mengoral pria yang disukainya melainkan pria lain. Cerita ini adalah cuplikan dari salah satu adegan klimaks film Ma yang menjelaskan pemicu Sue menjadi seorang psikopat.

Sue Ann (Octavia Spencer) bekerja sebagai asisten di sebuah klinik hewan. Suatu ketika Sue bertemu dengan sekelompok anak SMA yang minta tolong untuk membeli alkohol di mini market.

BACA JUGA: Seni sebagai Terapi untuk Mental Disorder

Pertemuan ini mengingatkan Sue akan masa kelamnya di sekolah dulu, yang membuatnya terobsesi untuk menjalin pertemanan dengan anak-anak remaja tersebut. Ternyata,  tidak hanya “menyakiti” para remaja tersebut, Sue juga mengurung anak perempuannya di rumah dengan alasan menghindari kejahatan yang mungkin diperoleh dari lingkungan sekolah.

Berisiko Mengalami Gangguan Mental

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association,  korban bullying berada pada risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Mereka yang mengalami bullying di masa remaja kerap melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlarang, depresi, kecemasan, dan membangun sikap permusuhan ketimbang mereka yang tidak pernah mengalami trauma bullying.

Seperti yang disampaikan oleh William Copeland , psikolog dari Duke University Medical Center, korban bullying empat kali lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan kecemasan di masa dewasa, risiko depresi lima kali lebih besar, 10 kali kemungkinan pikiran atau tindakan bunuh diri dan 15 kali kemungkinan mengembangkan gangguan panik.

Mengetahui informasi ini, sejatinya membuat semua orang menyadari kalau bullying bukan sesuatu yang lucu dan sekadar “candaan”. Bullying sangat bisa memengaruhi kesehatan fisik dan emosi, baik dalam jangka pendek maupun panjang, siklus kehidupan seseorang.

Bullying tidak hanya bisa meninggalkan cedera fisik, tetapi juga masalah sosial, emosional, bahkan kematian. Apalagi di era sekarang ini, bentuk bullying sudah bertransformasi lebih maju dalam bentuk cyber. Ini bisa kita temukan dengan mudah di kolom akun social media. Seseorang bisa mendapat komentar yang isinya sumpah serapah atau caci maki karena apa yang dia pakai, bentuk tubuhnya, apa yang dia katakan, dan lain sebagainya. Komentar yang dianggap mengundang tawa tersebut ternyata begitu menyakitkan dan bisa menyebabkan luka batin di masa mendatang.

Yuk, sebelum Anda terheran-heran dan berkomentar, “Kok bisa ya ada orang berperilaku tidak masuk akal begitu?” bisa jadi Anda bagian dari lingkaran pemicunya. Jadi, stop bullying!

BACA JUGA: Kenapa Kesepian Bisa Membuat Tubuh Sakit?