Liburan Ala Backpacker Tidak Sebatas Bersenang-senang

0
325
backpacking

Hayo..siapa di antara kalian yang senang melancong ala backpacker? Ternyata bukan hanya bisa menghemat biaya, secara psikologis, berlibur ala backpacking terbukti melatih seseorang menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mampu menyelesaikan masalah.

Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi WhatsApp Group bareng Heri Koesnadi (Komunitas Backpacker Indonesia, Jabodetabek) dan Komunitas Paprika Loca, Rabu (29/5) lalu. “Jalan bareng-bareng (backpacking—red) jadi melatih diri supaya tidak egois supaya bisa bekerja sama dengan yang lainnya. Namanya juga kita jalan bareng-bareng kan,” cerita Heri.

BACA JUGA: Makna Mendaki Untuk Mengenal Diri Sendiri

Selain itu, liburan ala backpacker memang menempa fisik lebih kuat dan tidak manja, membiasakan diri untuk tidur dimana saja karena bujetnya pas-pasan. Tapi, justru dengan cara yang hemat tersebut ada banyak pengalaman dan cerita menarik yang bisa diperoleh, salah satunya adalah mengenal lokalitas tempat tujuan lebih lagi.

Bukan Hanya Soal Bersenang-senang

Penelitian yang dilakukan oleh Sam Huang, seorang profesor dari Perth’s Edith Cowan University, mengungkapkan bahwasanya liburan ala backpacking bukan hanya sekadar kumpul-kumpul dan bersenang-senang tetapi juga menempa fisik juga mental.

Pasalnya, pertemuan dengan orang dengan latar belakang berbeda akan mengajarkan seseorang lebih bertoleransi dan memandang sesuatu dengan perspektif berbeda. Ibaratnya, mereka yang melakukan perjalanan dengan cara backpacking “hidup” di luar tempurung.

Seperti yang diungkapkan Sam Huang, backpacking bukan hanya soal bersenang-senang. Orang-orang yang melakukan perjalanan dengan ransel ini telah terlebih dahulu menabung, menyisihkan uang yang dimilikinya untuk melihat dunia luar.

Ada pengorbanan yang dilakukan dan pengorbanan tersebut bahkan disebut jauh lebih setara ketimbang melakukan pesta pernikahan mewah. Berlibur dengan cara seada-adanya dan memaksimalkan uang yang sebenarnya tidak begitu banyak bukan sesuatu yang mudah. Ini bisa dibilang tantangan emosi dan mental, yang bila Anda berhasil melewatinya akan membuat Anda menjadi sosok yang lebih baik secara individu maupun interaksi sosial.

BACA JUGA: Sudahkah Anda Menjadi Traveler yang Bertanggung Jawab?

Menjadi Traveler yang Bertanggung jawab

“Bergabung dengan komunitas backpacking sedikit banyak membentuk saya menjadi traveler yang bertanggung-jawab,” cerita Heri. Seperti yang sudah dirasakannya, dia ingin para traveler millennial juga mengalami perubahan dalam segi perilaku.

Diakui Heri, kebanyakan traveler muda cenderung berlebihan dan menjadikan perjalanan sebagai aksi selfie tanpa memerhatikan keselamatan dan lingkungan. Seperti baru-baru ini, selfie berujung maut terjadi di Panipat India, akhir April lalu. Tiga pemuda tewas ditabrak kereta api karena sibuk ber-selfie.

Contoh lainnya adalah Gigi Wu. Pendaki gunung yang dikenal sebagai bikini climber ini juga akhirnya meninggal dunia sehabis melakukan aksi selfie di jurang Taman Nasional Yushan, Taiwan, awal Januari silam. Sebenarnya ketika jatuh, Gigi masih bertahan, namun curamnya trek, membuat tim penyelamat kesulitan mengevakuasinya, sehingga Gigi gagal terselamatkan.

gigi wu
Sumber: Facebook Gigi Wu

Masih banyak cerita selfie lainnya, yang hanya demi foto melakukan aksi nekat sehingga kehilangan nyawa. Begitupun, Heri percaya lama-kelamaan sikap ini akan berubah kalau mereka bergaul dengan komunitas yang benar.

Ketika para wisatawan kembali memaknai perjalanan sebagai sesuatu yang tidak hanya dinilai dari foto atau jumlah like di sosial media. Melainkan apa yang diberikan perjalanan tersebut terhadap dirinya. Sama halnya dengan menjaga tempat wisata dari tangan-tangan nakal yang mengabaikan kebersihan lingkungan.

“Pasti sedih kan, kalau hanya kita saja yang bisa menikmati satu tempat wisata tapi anak cucu kita gagal melihatnya karena tidak dijaga,” tutup Heri.

BACA JUGA: Menginap di Eco Homestay, Membuat Traveling Anda Lebih Berkesan