Kondisi Autoimunitas : Bukan Penyakit

0
644

Sudah kenalkah Anda dengan kondisi Autoimunitas atau yang lebih dikenal dengan autoimun? Banyak orang mendefinisikan autoimun sebagai sebuah penyakit, akan tetapi sebenarnya autoimunitas lebih tepat disebut sebagai sebuah kondisi. Penyakit, pada umumnya, disebabkan oleh berbagai faktor eksternal, seperti virus, bakteri, kebiasaan merokok, dan sebagainya. Sementara itu, kondisi autoimunitas dimiliki setiap orang karena merupakan bagian dari gen yang diturunkan. Maka, dapat dikatakan setiap orang memiliki kecenderungan akan kondisi ini, yang membedakan adalah reaksinya terhadap lingkungan atau pencetus autoimun.

Dr. Stevent Sumantri, SPPD-DAA, dari Marisza Cardoba Foundation memberikan penjelasan tentang tentang kondisi ini dalam “Healthy Living Festival” di Plaza Semanggi, Sabtu 28 Oktober 2017. Kondisi autoimunitas adalah kondisi dimana tubuh memproduksi antibodi, yang seharusnya untuk melawan virus atau bakteri penyebab penyakit, secara berlebihan dan menyerang tubuh kita sendiri. Tingkat stress yang tinggi, polusi, dan gaya hidup yang tidak sehat menjadi pencetus kondisi autoimun. Tetapi, makanan yang kita makan sehari-hari menjadi penyebab utamanya.

Seiring dengan perkembangan jaman dan gaya hidup, kini, makanan tidak sehat lebih mudah untuk dijumpai dan dengan harga yang lebih terjangkau. Tidak heran, kita mungkin lebih sering mengkonsumsi makanan yang diproses dengan tidak benar, serta mengandung banyak bahan kimia. Pola makan ini tidak hanya mempengaruhi kondisi autoimunitas di dalam tubuh seseorang tetapi juga dapat memicu terjadinya beragam kondisi tidak seimbang lain, seperti diabetes, darah tinggi, bahkan dapat menimbulkan kanker.

Nah, faktanya, ada hubungan yang sangat erat antara kesehatan tubuh dan kebiasaan makan kita sehari-hari. Makanan yang kita konsumsi menentukan kesehatan organ cerna, bakteri apa yang tumbuh di dalam tubuh, dan bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap stimulus-stimulus tertentu. Jika kita mengkonsumsi banyak makanan penyebab peradangan, seperti junkfood yang kaya akan minyak, garam, kalori, dan lemak, akan membuat sistem imun kita bekerja terlalu tinggi. Kondisi inilah yang membuat tubuh menghasilkan antibodi dalam jumlah yang berlebihan dan hypersensitive atau dengan kata lain menyebabkan kondisi autoimun. Itu salah satu contoh trigger-nya.

Bagi para penyintas autoimun, membatasi dan mengatur pola makan adalah hal wajib yang perlu dilakukan. Meskipun demikian, tidak ada patokan khusus untuk melakukannya karena setiap orang memiliki makanan pemicu autoimun yang berbeda-beda. Beberapa penyintas akan sangat sensistif terhadap protein susu sapi, gluten, atau cabai dan tomat, sementara yang lainnya terhadap kacang-kacangan. Maka, tidak ada sebuah diet yang cocok untuk semua penyintas. Setiap kondisi sangatlah unik. Case by case untuk menaggulanginya. Dalam prosesnya, para penyintas dapat melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter ahli untuk menentukan program diet dan pola makan yang tepat.