Apa Hubungan Kompos Dan Perubahan Iklim?

0
20

Semakin banyak orang yang kini tergerak untuk membuat kompos sebagai kepeduliannya akan lingkungan. Tentunya ini suatu hal yang baik. Meski begitu belum semua orang mengerti mengapa kita perlu mengelola sampah dengan membuatnya menjadi kompos. Dalam workshop “Belajar Membuat Kompos” bersama Paprika Living, Pendiri Akademi Kompos Artomo menjelaskannya agar kita benar-benar paham alasan dibaliknya.

“Dampak dari perubahan iklim sudah kita rasakan, yaitu gempa, tanah longsor, kekeringan, banjir, puting beliung. Tapi kita masih di tahap belum aware akan itu semua,”ujar Artomo.

Perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya seperti methane di atmosfer yang menyebabkan Efek Rumah kaca (Green House Effect).

“Meskipun dampaknya sudah kita rasakan, banyak juga yang belum mengerti apa itu Efek Rumah Kaca. Banyak yang berpikir ini efek yang ditimbulkan oleh gedung-gedung kaca yang banyak di Jalan Sudirman sana,”ungkapnya.

Untuk memahami Efek Rumah Kaca dengan sederhana, kita bisa bayangkan bumi ada di dalam rumah kaca. Sinar matahari dapat masuk menembus ke dalam rumah kaca, namun panas yang masuk tidak bisa ke luar karena terhalang oleh lapisan kaca (Kaca di sini adalah analogi dari kumpulan gas yang terjebak di atmosfer, yang dikenal sebagai gas rumah kaca). Sehingga panas dipantulkan kembali ke bumi, dan bumi menjadi lebih panas daripada seharusnya.

Salah satu contoh dari dampak yang paling sering kita dengar salah satunya adalah mencairnya gunung-gunung es di kutub. 

Beberapa upaya untuk menurunkan efek gas rumah kaca adalah mengurangi karbondioksida dari pabrik, pembakaran sampah, asap kendaraan, termasuk membuat kompos, karena sampah juga berperan di dalam menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK). 

Gas metana yang dikeluarkan dari sampah yang dibuang dapat memerangkap 21x lebih banyak panas daripada CO2, memperburuk pemanasan global.

Seperti dikutip dari tempo.co, Sekretaris Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Ade Palguna mengatakan Provinsi DKI Jakarta menghasilkan sampah mencapai 7 ribu ton setiap harinya. Sebanyak 60 persen dari keseluruhan sampah yang ada merupakan sampah domestik atau rumah tangga.

sampah bantar gebang indonesia
Sekitar 60% sampah adalah sampah rumah tangga. Foto:Bunga Sirait

“Persoalan Indonesia yang besar itu adalah sampah domestik,” ujar Ade. Karena pemerintah tak mungkin mengelola semua sampah ini, masyarakat harus ikut ambil andil. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, perbaikan juga belum berjalan efektif sampai saat ini.

Yuk kita mulai kelola sampah dari rumah kita dengan membuat kompos!

Baca JUGA: Membuat Kompos, Cara Mudah Kurangi Sampah