Ketika Seni “Gagal” Menyembuhkan Gangguan Mental

0
27

Apakah Anda pernah mendengar nasehat yang mengatakan kalau kelemahanmu bisa menjadi sumber kekuatan?

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh RtoR Advisory Board, sebuah media yang memuat seputar kesehatan mental, mengungkapkan bahwasannya terapi seni bisa mengobati masalah psikologi seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma dan bahkan beberapa fobia.

Seni dianggap sebagai cara atau upaya mengekspresikan emosi tanpa kata-kata, memproses perasaan yang kompleks dan menemukan kelegaan. Karenanya, tidak heran kalau banyak pesohor yang menemukan “pelepasan” dari seni.

Sayangnya tidak semua public figure yang berhasil menekan gejala ataupun sembuh dari gangguan mentalnya. Seperti halnya Yayoi Kusama, seniman kontemporer asal Jepang yang dikenal dengan karya-karya motif polkadotnya.

BACA JUGA: Seni Sebagai Terapi untuk Mental Disorder

Beberapa seniman yang melegenda lewat karya-karyanya justru tidak berhasil bebas dari gangguan mentalnya. Ada penjelasan kenapa tidak semua perwujudan seni bisa menjadi terapi gangguan mental.

Akan kita bahas nanti, namun sebelumnya ada baiknya Anda membaca cuplikan kisah hidup beberapa seniman di bawah ini.

  1. Vincent Van Gogh

 

View this post on Instagram

 

A post shared by event communications (@event_comm) on

 Van Gogh dikenal sebagai salah satu pelukis pionir abad 20. Seniman asal Belanda ini diduga mengidap gangguan bipolar dan depresi. Saat berada dalam perawatan psikiatri, Van Gogh menciptakan karya-karya lukis yang menakjubkan.

Saint-Paul Asylum atau Saint-Remy adalah series lukisan yang dihasilkannya selama mendapatkan perawatan.  Tragisnya, di usia ke 37 tahun, Van Gogh memutuskan untuk bunuh diri.

  1. Edvard Munch

Anda mungkin pernah melihat di sosial media, posting-an lukisan seorang pria dengan mata kosong dan mulu terngaga berdiri di pinggir sungai? Ya, itu adalah lukisan dari pelukis Edvard Munch yang berjudul The Scream.

Sumber: https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-7-things-edvard-munch

Tak lain tak bukan, lukisan ini adalah bayangan halusinasinya. Seperti lukisannya yang gelap, catatan harian mengenai deskripsi lukisan tersebut tak kalah kelam.

Pelukis asal Oslo ini menggambarkan halusinasinya ketika dia sedang berjalan bersama temannya di tepi sungai, kemudian temannya meninggalkannya. Langit tiba-tiba menjadi sewarna dengan darah, dan dadanya tercabik mengeluarkan darah yang menetes.

Bipolar, psikosis, halusinasi, fobia , adalah beberapa jenis gangguan yang dialami oleh Edvard Munch. Gangguan kejiwaan ini kerap membuatnya sering kali berpikiran untuk menghabisi hidupnya sendiri.

Konon, penyakit mental ini terjadi karena keturunan. Edvard meninggal di usia 80 tahun karena pneumonia.

Harus dengan Dampingan

Menurut psikolog klinis dari Yayasan Bagi Hati Bagi Jiwa Indonesia, Addhi Chandra M.Psi, seni sebagai terapi tidak bisa dilakukan sendir, namun butuh dampingan ahli atau psikolog.

“Kecuali seni untuk refresh dan stress management bisa dilakukan sendiri dengan art activity yang disukai, contohnya  mewarnai, origami, dll,” tambahnya.

Ketika seni digunakan sebagai terapi untuk gangguan mental, maka diperlukan modul yang terstruktur dan observasi mendalam, “Sama dengan obat memiliki dosis pengawasan, terapi juga membutuhkan,” tambah Addhi.

Perlu dibedakan art sebagai refreshing dan terapi. Kalau kegiatan mewarnai yang saat ini masih ngetrend itu disebut sebagai kegiatan seni yang memiliki efek terapeutik, bukan art therapy. Terapi seni digunakan untuk orang dengan keluhan klinis yang bertujuan untuk mengubah kondisi awal yang dulunya sakit menjadi tidak sakit.

“Sebelum Yayoi Kusama jadi pelukis, dia sempat melakukan terapi dan art therapy. Apa yang kita lihat di pameran dan kehidupannya setelah terapi itu tindak lanjut proses art yang tetap berdampak therapeutic meskipun dia tidak dalam konteks terapi,” jelas Addhi lagi.

Ketika art therapy dilakukan tanpa pengawasan dan hanya dilakukan sendiri efeknya bisa menjadi tidak terarah. Misalnya Anda hanya mood swing tapi merasa bipolar, ini akan membuat Anda berkubang dengan perasaan sebagai bipolar, kalau Anda sakit, padahal hanya sebatas mood swing.

“Efeknya adalah bagaimana kita memandang dan menilai diri kita, jadinya self judgment atau self stigma. Makanya penting untuk diagnosis dari ahli untuk menghindari kesalahan diagnosis,” tambahnya lagi.

Seringnya, gejala memang bisa Anda lihat dan rasakan dari informasi yang tersebar luas di internet atau buku. Meskipun begitu, lebih baik memastikan kembali apakah Anda mengalami seperti yang Anda baca atau tidak.

BACA JUGA: Mendengarkan Lagu Sedih Bisa Meringankan Patah Hati?