Kantong Plastik, Kertas, Spunbond. Mana Yang Paling Eco?

0
3596

Kantong Plastik

Meski manfaatnya besar (salah satunya untuk dunia medis), reputasi buruk plastik telah membuatnya sebagai ancaman global. Setiap tahunnya, diantara volume sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton, sekitar 15% nya adalah sampah plastik. 

Sampah plastik dikatakan sebagai ancaman dunia modern karena ia tersebar di jalan, sungai, laut, yang membahayakan kehidupan binatang dan pada gilirannya manusia juga. Plastik bisa terurai namun dalam jangka waktu yang sangat lama hingga ratusan tahun, meski baru-baru ini ada penelitian yang mengungkapkan bahwa ada plastik yang ternyata

terurai lebih cepat daripada yang diperkirakan selama ini.

Umumnya kantong plastik belanja adalah high-density polyethylene (HDPE). Plastik belanja ini memiliki carbon footprint yang lebih rendah dibanding kantong kertas dan tas reusable – jika tas reusable tidak dipakai berulang-ulang, dan beberapa studi juga setuju mengatakan kantong plastik lebih baik untuk lingkungan dibanding kantong kertas.

Meski begitu, fakta bahwa plastik diambil dari minyak bumi yang jumlahnya terbatas, dan karena semakin terbatas, mengambilnya terus menerus pasti akan berdampak buruk juga pada lingkungan.

Selain plastik konvensional, sekarang kita juga memiliki alternatif plastik berbahan nabati yang akan terurai dengan sempurna dan plastik berteknologi oxium yang dapat terurai lebih cepat.

tas belanja kertas

Kantong Kertas  (Paper bag)

Kantong yang terbuat dari kertas secara sekilas merupakan pilihan yang baik, karena ia akan terurai, bisa didaur ulang dan dijadikan kompos. Tetapi dalam kuantitas banyak, produksi kantong kertas membutuhkan banyak air, bahan bakar dan ada pohon-pohon yang ditebang.

Menurut sebuah studi di Inggris, pembuatan kantong kertas memerlukan air empat kali lebih banyak dibanding yang diperlukan untuk kantong plastik. Kantong belanja juga banyak yang tidak terbuat dari bahan dair ulang karena kertas baru memiliki serat yang lebih panjang dan kuat. Tentu ini belum termasuk pembahasan soal tinta (yang banyak mengandung bahan yang merugikan lingkungan) yang dipakai untuk mencetak tulisan di paper bag.

tas-belanja kain

Tas Pakai Ulang (Reusable Bag)

Tas reusable bisa terbuat dari berbagai macam material, namun yang umum ditemui ada dua, yaitu bahan katun dan non-woven polypropylene (PP) / spundbond.

Meski terlihat lebih ramah lingkungan, kuat dan dapat terurai, dalam prosesnya tas katun memerlukan banyak air dan pestisida secara intensif. Berbagai studi mengungkapkan bahwa pestisida kimiawi lebih banyak digunakan dalam perawatan bunga kapas dibanding tanaman lain. Dikatakan juga bahwa 16% dari penggunaan insektisida global digunakan untuk pertumbuhan kapas.

Tas Non-woven PP diciptakan untuk lebih kuat dibanding kantong plastik dan diciptakan untuk dipakai ulang. Namun tas jenis ini kualitasnya juga beda-beda. Tas non woven yang kualitasnya rendah akan mudah robek atau talinya gampang putus, sehingga sudah rusak duluan sebelum Anda pakai berkali-kali.

Lalu, mana kantong yang paling “green” untuk digunakan?

Jawabannya sebenarnya bukan soal materinya, tapi tergantung perilaku atau pola konsumsi kita. Seberapa konsisten atau telaten kita untuk menggunakannya secara maksimak.  Artinya, tas ramah lingkungan yang Anda beli sebenarnya baru menjadi “ramah lingkungan” jika Anda menggunakannya secara maksimal.

macam macam tas ramah lingkungan

Produk yang diciptakan untuk dipakai lebih lama membutuhkan lebih banyak sumber daya dalam proses pembuatannya dan dengan demikian menciptakan lebih banyak dampak pula terhadap lingkungan.

Laporan ini menghitung berapa frekuensi penggunaan berbagai jenis kantong yang diperlukan untuk mengurangi potensi global warming.

Mari lihat beberapa diantaranya:

  • Kantong LDPE 

Digunakan ulang minimal 1 kali untuk mengurangi

  • Kantong PP, non-woven

Digunakan ulang minimal 6 kali hingga 52 kali

  • Kantong PP, woven

Digunakan ulang minimal 5 kali – 45 kali

  • Kantong Polyester

Digunakan ulang minimal 2 kali – 35 kali

  • Kantong kertas yang sudah diputihkan

Digunakan ulang minimal 1 kali – 43 kali

  • Tas katun

Digunakan ulang minimal 52 kali hingga 7,100 kali

  • Tas katun organik

Digunakan setidaknya 149 kali hingga 20,000 kali.

Dari beberapa perhitungan di atas kita bisa lihat, misalnya untuk tas katun organik. Untuk mencapai pemakaian sebanyak 20,000 kali berarti tas itu digunakan setiap hari selama kurang lebih 55 tahun agar “impas” dengan semua total energi yang dikeluarkan untuk memproduksinya.

Jadi kalau Anda bisa telaten memakainya selama itu, barulah tas Anda menjadi ramah lingkungan. Tapi kalau Anda membelinya dan hanya menggunakannya sekali dan di lain waktu membeli lagi yang baru hingga menumpuk d rumah…. ya sama saja bohong. Anda hanya koleksi tas, tapi sayangnya Anda tidak benar-benar melakukan perubahan.

Nah, jika sekarang Anda sedang mencari tas belanja, pastikan untuk mempertimbangkan banyak aspek; ya materialnya, asalnya, fungsi yang Anda butuhkan, dan komitmen Anda untuk menggunakannya secara maksimal. Yang paling baik tentunya adalah menggunakan tas yang sudah Anda punya.

Jadi pada akhirnya yang akan membuat perubahan itu bukan jenis materialnya, tapi perilaku kita.

BACA JUGA: 6 Miskonsepsi Zero Waste (Dari Pengalaman Saya dan Terbentuklah Sustaination)

 

Anda pernah mencoba produk ini? Berikan penilaian Anda!