Filter Instagram Yang Sering Dipakai Orang Yang Sedang Depresi Vs Mereka Yang Sehat Mental

0
354
Filter Instagram Yang Sering Dipakai Orang Yang Sedang Depresi Vs Mereka Yang Sehat Mental
Filter Instagram Yang Sering Dipakai Orang Yang Sedang Depresi Vs Mereka Yang Sehat Mental

Banyak orang mengatakan bahwa foto mewakili kenangan-kenangan dan menyimpan jutaan cerita tentang momen kehidupan. Kini, sudah menjadi hal yang umum kalau momen tersebut tidak disimpan di album foto, tapi dibagikan di social media.

Penelitian: Menyimpan Kenangan Jutaan Cerita di IG

Lebih dari pengingat sebuah momen, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa postingan instagram ternyata juga bisa menggambarkan kondisi kesehatan mental kita.

Pada penelitian kecil ini dilakukan terhadap 166 orang, para peneliti menganalisa lebih dari 43.000 foto pada Instagram subjek dan menanyakan tentang sejarah kondisi kesehatan mental mereka.

Hasilnya, kurang dari setengah partisipan didiagnosa mengalami depresi dalam tiga tahun terakhir.

Kemudian, dari hasil tersebut, para peneliti mengembangkan algoritma yang menganalisa elemen foto-foto di Instagram, termasuk warna, jumlah orang di dalam foto, jumlah komentar dan likes pada foto tersebut.

Mereka yang memiliki depresi biasanya mengunggah foto yang lebih blur, berwarna lebih gelap, dan dengan sedikit orang di dalam foto.

Foto Instagram dan depreso
Mana foto yang diposting orang yang sedang depresi?

Partisipan yang mengalami depresi juga biasanya tidak menggunakan filter ketika mereka mengedit dan mengunggah foto ke Instagram.

Atau, kalaupun mereka memilih untuk melakukan perubahan pada fotonya, filter ‘Inkwell’ yang mengubah warna foto menjadi hitam putih, akan menjadi pilihan.

Sementara itu, partisipan yang sehat secara mental lebih memilih filter ‘Valencia’ yang menguatkan warna foto.

Observasi Pilihan Foto dan Filter di Instagram

Berdasarkan observasi yang dilakukan tentang pilihan foto dan filter, para peneliti kembali membuat sebuah algoritma yang mengungkapkan secara akurat bahwa 70% pengguna Instagram mengalami depresi.

Bahkan, program komputer ini sudah mengetahui tanda-tanda depresi pada foto seseorang sebelum mereka didagnosa oleh dokter.

Hasil tersebut diharapkan dapat memotivasi para ilmuwan untuk melaukan penelitian tentang persilangan antara teknologi dan tanda-tanda depresi, sehingga dapat membantu mereka yang depresi dengan lebih cepat.

Selain itu, Chris Danforth, wakil direktur di lab computational story Universitas Vermont, mengatakan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan hasil observasi para profesional di bidang kesehatan mental.

Mereka yang memiliki depresi lebih cenderung untuk menghindar dari kelompok sosialnya, sehingga sangat masuk akal kalau mereka tidak sering foto beramai-ramai.

Cara pandang mereka terhadap dunia yang lebih gelap juga menentukan filter yang dipilih saat mengunggah foto di Instagram.

Hampir 300 juta orang di seluruh dunia terdiagnosa depresi. Maka, idealnya, menurut Danford, teknologi dapat membantu seseorang untuk mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Terlebih, jika mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada diri mereka sendiri.

Penelitian ini pula memperkuat anggapan bahwa sosial media merupakan sumber data tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupan mereka.

Seperti yang dilakukan tahun 2013 oleh peneliti dari Universitas Vermont tentang bagaimana geotagged tweets menggambarkan kebahagiaan seseorang.

Menjadikan sosial media sebagai unsur penting dalam penelitian kesehatan mental dapat memberikan manfaat bagi banyak orang, mengingat tren sosial media yang berkembang sangat pesat.

Penelitian ini sudah diterbitkan dalam Jurnal EPJ Data Science. Dari berbagai sumber