Happy Gut, Happy You!

0
3298

Dengan meningkatnya masalah pencernaan terutama di masyarakat urban, kita jadi sering mendengar mikrobiota usus (gut microbiome). Dia bukan obat manjur atau metode terapi kesehatan. Benda ini pun bukan bagian tubuh yang populer, tapi keberadaannya amat penting, lebih penting daripada yang kita pikirkan selama ini.

Ahli Biologis Molekular, Joshua Lederberg  mendefinisikan Gut Microbiome sebagai totalitas mikroorganisme, bakteri, virus, protozoa, dan jamur, dan materi genetik kolektifnya yang ada di saluran pencernaan.

Mikrobiota usus mengandung puluhan triliun mikroorganisme, termasuk setidaknya 1000 spesies bakteri dengan lebih dari 3 juta gen (150 kali lebih banyak dari gen manusia). Secara total, berat microbiota mencapai 2 kg.

“Gut microbiome ada di tempat lain, ada di kulit, paru-paru, namun terbesar jumlahnya ada di usus. Jumlahnya sama dengan sel tubuh kita. Jadi sebenarnya kita bisa dibilang 50% orang, 50% gut microbiome,” ungkap Susan Hartono, MSc, CHt, nutrisionis dan praktisi penyembuhan holistik.

Dari banyak studi, diketahui mikrobiota yang ada dalam pencernaan ternyata memegang peranan sangat penting untuk kesehatan kita khususnya dalam penyerapan nutrisi, mineral, sintesa enzim, vitamin dan asam amino.

Makhluk ini tak ubahnya cerminan diri kita. “Gut microbiome ini sering dibilang juga genetic food print. Dia bisa menentukan DNA kita dan dari sini juga bisa diperkirakan tubuh seseorang dapat terkena penyakit apa,”ungkap susan.

Gut Microbiome Tiap orang Berbeda

Setiap orang memiliki kondisi mikrobiota usus yang berbeda-beda karena dipengaruhi berbagai macam faktor. Apakah seseorang pemakan daging atau tumbuhan, atau dilahirkan secara caesar atau alami, hal-hal ini dapat menyebabkan perbedaan.

Susan menjelaskan bahwa masa krusial adalah saat kita lahir sampai 3 tahun. Di masa inilah gut microbiome yang terbentuk akan menjadi gambaran kesehatan seseorang di masa depannya.

“Bayi yang lahir dengan cara caesar dengan yang alami akan berbeda. Yang natural lebih ketika melewati jalur lahirnya, ia mendapat gut microbiome sang ibu, yang sehat dan alami. Bayi yang caesar tidak mendapat kesempatan itu. Bayi yang diberikan ASI selama 6 bulan juga meningkatkan mikrobiotanya dari ibu. Bayi yang dikasih fomula berbeda. Maka itu bayi yang lahir natural dan mendapat ASI dibilang lebih kiyeng kalau orang jawa bilang (kuat, kokoh – red),”ungkap Susan.

“Tapi bukannya tidak bisa diubah. Kalau pola makan berubah, managing stressnya bagus dan lain-lain akan tetap pengaruhnya,”sambungnya.

Bisa Jadi Musuh atau Lawan

70-80 % sistem kekebalan tubuh kita ada di pencernaan. Jadi jika terjadi masalah dengan sistem pencernaan kita, sistem imun kita pasti ikut menderita. Maka harus ada interaksi yang sehat antara sistem kekebalan tubuh dan mikrobiota usus.

Gut Microbiome bisa menjadi kawan atau lawan tubuh kita, tergantung bagaimana kita yang menjadi host-nya.

“Gut microbiome kan macam-macam, ada yang baik dan tidak. Kalau balance dan harmonis, dia akan membendung bakteri patogen. Kalau kebalikannya, dia akan menyerang kita,” ungkap Susan Hartono.

Gut microbiome, sambung Susan, membantu tubuh kita mencerna berbagai vitamin, terutama vitamin B, D, termasuk K (untuk pengetalan darah).

“Semuanya tidak optimal tanpa gut microbiome. Kalau kita ada masalah pencernaan, gizi mikro bermasalah, ujung-ujungnya kita mengalami hormonal imbalance. Itu seperti lingkaran masalah. Emosi pun bisa dipengaruhi oleh gut microbiome yang tidak sehat.

Serotonin dibentuk pencernaan kita, jadi kalau produksinya cukup, otak kita dapat signal happy, mood kita bagus. Kalau serotonin rendah, moodnya bisa gak bagus. Nah signaling itu dari gut microbiome. Maka itu, gut microbiome itu gak main-main, itu seperti dunia sendiri yang ada di dalam tubuh kita,”ujar Susan.

Jadi Bagaimana Caranya Untuk Menciptakan Gut Microbiome yang Ideal?

Susan membagikan beberapa saran agar kita bisa memperbaiki kondisi mikrobiota usus kita, yaitu:

  • Batasi processed food secara signifikan

Processed food itu sering disebut dead food, karena sudah tidak ada apa-apa yang berguna hanya tinggal kalori, lemak, gula karena pemanasan tinggi atau pemanasan yang dilakukan berulang-ulang.

  • Makanlah makanan utuh

Makanan yang segar, hidup. Bisa mentah atau dengan proses minim. Kalau makan sayur, kukus saja sebentar, jangan sampai warnanya hilang. Mereka yang rajin makan sayur akan memiliki probiotik yang tinggi yang baik untuk pencernaan. Kombinasikan makanan matang dan makanan mentah.

BACA JUGA: Cara Mudah Makan Buah dan Sayur Lebih Banyak 

  • Don’t Kill The Good guys  

Bakteri baik adalah teman kita. Antibiotik menghilangkan bakteri buruk tapi juga sekaligus bakteri baik. Kita tidak ingin kekurangan bakteri baik, jadi jangan mudah menggunakan antibiotik termasuk juga hindari pestidida atau kimia berbahaya pada makanan.

  • Feed The Good Guy

Masukkan makanan fermentasi sebagai menu wajib di dalam variasi menu makanan Anda. Makanan yang difermentasi lebih mudah diolah tubuh, metode fermentasi juga bisa mengurangi pestisida. Kalau kita banyak makan sayur dan produk fermentasi, gut microbiome kita akan happy dan mood kita pun baik.

Apa saja makanan fermentasi? Coba baca artikel yang pernah kami tulis: 6 Makanan Feremntasi Yang Baik untuk Ususmu.

  • Suplemen probiotik

Ada periode dimana status kesehatan seseorang belum waktunya dikasih probiotik, apalagi sumplemen. Maka konsultasikan dulu jika ingin mengonsumsi probiotik karena harus hati-hati khususnya untuk mereka yang memiliki keluhan GERD atau asam lambung.

Nah, mulai sekarang kita bisa jadi lebih sadar kalau mau makan sesuatu kita bisa memilahnya dengan berpikir apakah makanan itu memberi makanan bakteri baik atau bakteri buruk di usus kita?

BACA JUGA: Apa Bedanya Probiotik dan Prebiotik?

BACA JUGA: Resep Makanan Fermentasi Sauerkraut Probiotik