Dampak Puasa Terhadap Kerja Otak dan Kesehatan Jiwa

0
121
diskusi paprika loca mengenai dampak puasa terhadap kognitif

Dampak Puasa Terhadap Kerja Otak dan Kesehatan Jiwa

Puasa adalah ritual keagamaan yang telah dipraktikkan sejak berabad-abad lalu. Ritual puasa terdapat di semua agama dengan tata cara dan durasi yang berbeda-beda. Pada dasarnya, puasa merupakan upaya pantangan, tidak makan dan tidak minum atau mengurangi jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Ramadan merupakan bulan yang memiliki kekhususan tersendiri dalam kalender Islam. Di bulan ini, umat Islam melakukan ibadah puasa setiap hari selama 30 hari berturut-turut. Puasa di bulan Ramadan dimulai sejak matahari terbit dan diakhiri saat matahari terbenam. Tujuan dilakukannya puasa Ramadan adalah untuk memupuk disiplin diri serta menumbuhkan empati kepada sesama.

Diskusi Paprica Loca kali ini, Rabu (15/5) mengangkat tema “Dampak Puasa Terhadap Kerja Otak dan Kesehatan Jiwa” dengan narasumber dr. Gina Anindyajati, SpKJ, dari Klinik Angsamerah.

SHARING SESSION

dr Gina: Terima kasih kesempatannya Paprika Living. Sebagaimana tercantum di flyers, saya psikiater dari Angsamerah Clinic, Jakarta. Angsamerah adalah klinik umum yang fokus pada wellbeing. Layanan kami bergerak terutama pada kesadaran memeliharan kesehatan reproduksi, termasuk juga konsultasi psikologi dan layanan oleh psikiater

Paprika Living: Ngomongin psikologi kan tema kita kali ini adalah “Dampak Puasa Terhadap Kerja Otak dan Kesehatan Jiwa” nah itu sebenarnya seperti apa sih dok? bukannya kalau lagi lapar biasanya kita jadi susah berpikir ya dok?

dr Gina: Ya biasanya anggapan yang kita punya seperti itu ya.. kalau lapar kita jadi tidak bisa berpikir. Betul bahwa otak kita membutuhkan glukosa (yang berasal dari asupan makanan) untuk bekerja. Pada kondisi puasa, kerja otak awalnya menggunakan glukosa. Ketika stok glukosa menipis (jelang sore) maka otak akan menggunakan keton sebagai ‘bahan bakar’ untuk bekerja. Jadi sebetulnya otak tetap dapat bekerja meski tidak ada asupan makanan.

Kondisi seperti ini memang tidak bisa bertahan untuk jangka panjang. Akan tetapi, puasa yang dilakukan pada waktu tertentu dapat membantu juga kontrol glukosa dalam darah, sehingga kita lebih sehat. Hal ini dimungkinkan karena ketika glukosa menumpuk, efeknya justru tidak baik pada jaringan otak.

Paprika Living: Ada durasi maksimalnya kah dok? Durasi maksimal ideal sehingga kita mendapatkan manfaat puasa yang dokter sampaikan tadi.

dr Gina: Umumnya manusia dapat bertahan sekitar 3 harian tanpa asupan makanan. Bisa sampai dengan 7 hari namun kondisi fisiknya akan jauh menurun. Manfaat puasa terbukti melalui penelitian yang dilakukan pada orang yang melakukan puasa Ramadan dan pada orang yg melakukan puasa alternate (selang-seling).

Paprika Living: Tadi dokter ada menyinggung soal keton. Apa beda Keton dan glukosa sebagai bahan bakar?

dr Gina: Glukosa adalah sumber energi utama, sementara keton adalah sumber energi cadangan. Kalau kita makan makanan berkarbohidrat, maka setelah dimetabolisme akan menjadi glukosa yg dipakai segera oleh tubuh. Bila tidak terpakai maka ia akan ditumpuk. Sementara keton merupakan hasil olahan dari asam lemak.  Dia  memiliki fungsi yang sama dengan glukosa, namun berasal dari sumber yang berbeda.

Paprika Living: lebih bagus mana dok, glukosa atau keton sebagai bahan bakar?

dr Gina: Keton baru akan jadi bahan bakar ketika tubuh kekurangan glukosa, misalnya saat diet rendah karbohidrat, puasa, kelaparan.

dr Gina: Jadi sumber utama tetap glukosa sebetulnya. Namun, khawatir glukosa berada dalam darah berlebihan kadarnya dan membahayakan, maka sesekali perlu puasa sebagai penyeimbang.

Sochi Budin: Saya pernah dengar tentang alzheimer sebagai diabetes tipe 3, yaitu diabetes pada sel otak. Jadi katanya lagi cara pengobatannya adalah kasih makan otak dengan keton. Bagaimana menurut dokter ?

dr Gina: Diabetes tipe 3 diartikan sebagai resistensi otak terhadap insulin. Artinya, otak tidak merespons kerja insulin sehingga glukosa berlebihan di otak dan perlahan merusak saraf otak. Saraf yang rusak ini kemudian menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang disebut sebagai Demensia Alzheimer.

Pengendalian kadar glukosa dalam darah memang menjadi tujuan utama dalam manajemen diabetes, salah satunya dengan pengaturan pola makan yang seimbang. Pemberian keton saja tentu tidak cukup untuk membuat otak bekerja optimal.

Lina M: Gimana caranya kita tetap konsentrasi saat otak kita banyak pikiran dan gimana cara mengatur otak berpikir ?

Untuk mengatur apa yang perlu kita pikirkan saat itu adalah dengan menyadari bahwa kita sedang berpikir tentang banyak hal. Kemudian kita mulai memilah mana yang perlu kita pikirkan saat itu juga.

Saat ini banyak cara bantu diri untuk membantu latihan konsentrasi. Permainan sudoku, tts, game yang dirancang khusus untuk mwlatih konsentrasi, aplikasi mindfulness, dsb

Kenyasentana: Kalau mau menghadapi ujian yang butuh konsentrasi, disarankan puasa atau tidak?

Konsentrasi merupakan salah satu bagian dari fungsi kognitif. Orang yang otaknya berfungsi baik dan sadar penuh akan memiliki konsentrasi yang baik. Memiliki banyak pikiran adalah hal yang sering dialami tiap orang.

Untuk menghadapi hal yang memerlukan konsentrasi, tubuh perlu kadar glukosa yang optimal. Artinya, tidak kekurangan dan tidak kelebihan.

Makan yang cukup beberapa jam sebelum ujian bisa membantu. Usahakan untuk memilih makanan yang tidak terlalu tinggi kadar glukosanya sehingga mencegah timbulnya rasa kantuk. Selain itu juga hindari makanan yang berpotensi merangsang motilitas (gerakan) usus yang bisa mengganggu konsentrasi saat mengerjakan ujian.

Lina M: Ketika banyak pikiran, saya harus ketemukan solusi agar asam lambung saya normal kembali. Dan saya nggak bisa main sodoku.

dr Gina: Pada sebagian besar orang, menuliskan apa yang sedang dipikirkan bisa membantu menguraikan apa yang ada di dalam kepala kita. Hal ini terjadi karena ketika kita memulai menulis, kita akan mulai memperhatikan apa yang kita pikirkan. Seringkali kita berpikir tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya kita pikirkan sehingga terkesan banyak dan saling tumpang tindih.

Bila hal ini dirasa belum cukup, aplikasi yang mengajarkan mindfulness dapat diunduh dari gawai masing-masing. Pendekatan mindfulness membantu kita untuk lebih sadar dengan apa yang sedang kita alami. Oleh karenanya membantu kita untuk mengenali pikiran kita sendiri. Karena sesungguhnya, tidak ada yang tahu apa yang kita pikirkan selain diri kita sendiri.

Jika upaya tadi dirasa belum berhasil, mungkin perlu bantuan profesional. Untuk kesulitan yang sifatnya harian bisa melakukan terapi dengan psikolog. Sementara untuk kesulitan yang lebih berat dan mengganggu fungsi fisik memerlukan pengelolaan bersama psikiater, termasuk mungkin kebutuhan pengobatan khusus.

Ukuran banyak atau tidak itu relatif untuk masing-masing orang. Adalah sesuatu yang alamiah untuk pikiran manusia berkelana dan berpindah memikirkan satu hal ke hal yang lain.

Hal ini masih dianggap normal ketika kita masih bisa berfungsi menjalankan aktivitas harian dan produktif. Misalnya, saat masak, meski memikirkan hal lain tapi masakan matang dengan baik. Beda halnya ketika kita sedang masak, memikirkan hal lain, lalu memasaknya tidak selesai dan kita teralih mengerjakan hal lainnya.

Winda: Saya sahur dengan makan buah dan air madu itu pun tak banyak. Tahun lalu saya menjalani puasa  dengan pola makan sahur seperti itu, namun setelah menjalankan sekitar dua pekan, yang saya rasakan ada sensasi “semriwing” seperti orang belum sarapan menjelang sore hari.

Tahun ini saya makan sahur dengan pola yang sama, namun baru 3 hari rasanya kok lebih cepat lemas?  Saya sebenarnya sudah cukup nyaman dengan pola makan sahur saya, tapi mungkin ada masukan dok?

Lalu kiat2nya apa untuk tetap konsentrasi di bulan puasa terutama ketika sore hari? Apakah ada makanan tertentu yang bisa dikonsumsi saat sahur?  Apakah dampak puasa seperti yg dijelaskan dokter di atas berlaku juga untuk anak-anak? Terima kasih banyak dok

dr Gina: Salam kenal Winda. Sensasi semriwing yang dirasakan mungkin merupakan tanda dari kondisi rendahnya glukosa dalam darah. Hal tersebut akan hilang ketika kita memasukkan makanan ke dalam tubuh.

Pola yg sama yg diadaptasi tahun ini bisa saja memberikan efek yang berbeda. Hal ini karena tubuh kita sensitif terhadap asupan makanan yang sudah menjadi kebiasaan. Kalau dalam setahun terakhir kita sering makan dengan pola yang lain, maka tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi dan tahan dengan pola makan yang sekarang.

Buah dan air madu bisa menjadi pilihan karena diperkirakan dpt menjadi sumber energi yang cukup awet hingga waktu berbuka. Akan tetapi, pemilihan buah yang dikonsumsi saat sahur juga menjadi penting. Usahakan memilih buah yang kadar gulanya tidak terlalu tinggi. Hindari mangga, pepaya, dan semacamnya.

Penurunan konsentrasi di sore hari saat puasa adalah sesuatu yang lumrah. Penyesuaian aktivitas bisa menjadi alternatif solusi. Mengenai efek pada anak, sampai saat ini yang ada penelitiannya adalah pada orang dewasa.

Winda: Terima kasih dok, terjawab sudah, yang berbeda sahur saya kali ini lebih sering pepaya dibandingkan tahun lalu dan iya, tahun ini pola makan sehari-hari saya tidak sehat seperti beberapa tahun lalu, ternyata memberi efek juga ya ?

Meita: Hi dok, saya mau bertanya apakah skip sahur itu berbahaya untuk kinerja otak? terimakasih dok.

Secara umum tidak. Artinya, dengan kita melewatkan sahur otak tetap utuh dan tidak mengalami cedera apapun. Akan tetapi, efek pada konsentrasi dan kecepatan berpikir mungkin akan lebih banyak menurun pada orang yang tidak sahur.

Paprika Living: Tadi dokter bilang puasa bisa memengaruhi kesehatan jiwa, kesehatan jiwa seperti apa ya dok? karena kadang kalau kita ngga makan kan bikin emosi. itu gimana dok?

dr Gina: Betul sekali. Salah satu hal yang biasanya memicu seseorang menjadi iritabel adalah kondisi kelaparan. Akan tetapi, hal ini bisa berbeda pada orang yang melakukan puasa secara khusyuk. Ketika puasa dengan khusyuk maka seseorang akan menghayati puasanya dan mendapatkan kenyamanan. Hal ini karena aktivasi regio otak bagian depan-dalam yang disebut sebagai nukleus akumbens.

Winda: Pernah dengar prefrontal cortex apakah ini bagian otak yang sama dok?

dr Gina: Korteks prefrontal adalah bagian otak paling depan yang berfungsi sebagai rem pengambil keputusan. Sementara nukleus akumbens terletak di bagian dalam agak sedikit di belakang korteks prefrontal. Fungsi nukleus akumbens adalah menghasilkan rasa nyaman yang merupakan bagian dari reward sistem di otak.

Winda: Aktivasi regio nukleus akumbens itu karena yang menjalani puasa khusyuk ya dok?

dr Gina: Iya…

Winda: Adakah kaitan PFC dengan nukleus akumbens dok dalam kondisi puasa seperti ini dok? Yang saya pahami PFC bertanggungjawab ketika kita mengambil keputusan yang baik ?

dr Gina: Keduanya terhubung sebagai suatu loop (sirkuit). Jadi kerja baik bagian yang satu akan berdampak kerja baik bagi bagian yang lainnya.

Lina M: Thank you dok, kalau saya harus bertemu, saran dokter kemana dan mahal gak. Kalau usaha sendiri bisa kah?

Winda: Terima kasih banyak dok penjelasannya

Lina M: Iya nih jadi tahu

CLOSING

Paprika Living: Baiklah teman-teman, seru banget ya diskusi hari ini, sebagai penutup mungkin ada pesan-pesan yang ingin dr Gina sampaikan?

dr Gina: Puasa bisa menjadi sarana kita meningkatkan kemampuan berpikir, dan juga bisa mendorong munculnya rasa rileks dan sejahtera. Niat yang baik saat mengawali puasa, persiapan makan sahur dan pemilihan menu berbuka menjadi penunjang yang penting agar kita bisa mendapatkan manfaat puasa. Terima kasih atas pembelajarannya malam ini. Semoga bermanfaat.

Artikel ini adalah rangkuman percakapan dalam diskusi WhatsApp Group antara dr. Gina Anindyajati, SpKJ  dan anggota Komunitas Paprika Loca! Diskusi seputar isu kesehatan diadakan tiap Rabu malam Pk.20.00 – 21.00. Jika Anda ingn bergabung, Anda bisa menghubungi Whatsapp ke +62 813-1515-9860 atau klik link berikut ini : http://bit.ly/PaprikaLoca_WAG

BACA JUGA: Hidup Sehat dan Bahagia dengan Teknik Pernapasan Sederhana