Anak Kecanduan Gadget: Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

0
646
anak bermain bola jakarta
Photo by Robert Collins on Unsplash

“Lebih baik sekolah aja deh, bosan sekali daritadi ngelihatin Bintang main gadget terus dari pagi,”ungkap Sari. Anaknya, Bintang, yang berusia 8 tahun, seperti anak-anak lain di Jakarta saat ini, diliburkan selama 2 minggu sejak wabah Covid-19 merebak.

Sari mengakui agak putus asa melarang Bintang untuk berhenti bermain gadget. “Karena akhirnya nanti pasti kita harus berantem dulu, marah-marah dulu, capek. Makanya saya sangat menantikan sekolah onlinenya pakai google classroom segera dimulai,”katanya.

Anak-anak yang mahir menggunakan gadget sepertinya jadi bagian “the new normal” dalam masyarakat modern masa ini. Masalah tentang kecanduan gadget pun turut menjadi masalah “normal” jaman sekarang.

Rasanya hampir semua orang tua mengetahui dan percaya kalau kecanduan gadget akan memberikan efek yang tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental anak-anak.

Menyadari efek jangka panjang dari seringnya bermain gadget membuat orang tua mulai mencari cara-cara kreatif untuk mengatasinya. Sayangnya banyak yang “mati gaya” ketika harus “bersaing” menawarkan kegiatan yang lebih menarik untuk anak daripada main gadget.

Vivi Ang, certified behavior consultant, practitioner in therapeutic play skill, dan pemilik Brainfit di Gading Serpong membagikan langkah-langkah yang bisa dilakukan orangtua untuk mengatasi masalah kecanduan ini.

Langkah awal yang perlu dilakukan setiap orang tua untuk menghindarkan anak-anak dari kecanduan gadget adalah mengenali kebutuhan dasar mereka, yaitu diakui, diterima, dicintai, merasa aman, dan memiliki kendali penuh akan dirinya.

Faktanya, kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan bermain gadget, maka tidak heran jika gadget menjadi benda yang sangat menarik bagi anak-anak.

BACA JUGA : Begini Caranya Agar Anak tidak Kecanduan Gadget

“Tugas orang tua adalah membuat anak-anak merasa kebutuhannya terpenuhi. Sebagai orang tua seharusnya, kita tidak membuat anak-anak merasa takut dan tidak nyaman dengan keberadaan kita. Peran orang tua juga tidak sebaiknya digantikan oleh gadget hanya agar pekerjaan mengurus anak menjadi lebih mudah,” jelas Vivi Ang.

“Menjadi orang tua berarti salah satunya adalah belajar mengerti perasaan anak-anak kita, kalau mereka sedih, kesal, bosan, ataupun bahagia. Buat mereka merasa kalau kita akan selalu ada kapanpun mereka membutuhkan, sehingga anak-anak kita merasa aman, diterima, dan dicintai.”

Selain itu, komitmen dari kedua orang tua sangat diperlukan untuk menghindarkan anak-anak dari gadget.

Tips sederhana lain dari Vivi Ang yakni ciptakan waktu berkualitas di dalam keluarga, setidaknya 2 jam setiap hari atau 1 hari dalam satu minggu, tanpa gadget.

Kebiasaan ini dapat menjadi awal yang baik untuk  lebih mengenal dan memahami anggota keluarga Anda.

So, mari kita mulai dari diri kita dulu, sebagai orang tua, untuk mengajarkan kebiasaan baik tanpa gadget. Kalau mau anak-anak tidak main gadget terus, kita juga harus seperti itu, di rumah jangan hanya fokus dengan HP ataupun tablet kita masing-masing. Luangkan waktu untuk ngobrol dan berbagi cerita. Pasti anak-anak kita kelak akan mengikutinya,” tambah Vivi Ang.

Nah jika Anda adalah orangtua yang mengalami masalah serupa soal gadget dan anak, mungkin saat isolasi diri ini bisa menjadi titik awal yang baik untuk perubahan.