Bersih-bersih Media Sosial Dari Postingan “Wisata Demo”

0
231
Selfie Wisata Bencana

Kerusuhan yang terjadi 21-22 Mei 2019 di Jakarta tidak hanya meninggalkan kengerian dan sampah saja tetapi juga “kelucuan”, ketika orang-orang datang ke lokasi kerusuhan hanya demi mengambil gambar diri atau selfie.

Perilaku ini memunculkan istilah “wisata demo”, karena ketika orang normal menjauhkan diri dari lokasi kerusuhan, beberapa orang justru malah menjadikannya sebagai tempat wisata.

Menurut dr. Ratna Mardiati , SpKJ (K) dari Klinik Angsamerah, keinginan untuk melakukan kegiatan foto-foto di tempat yang berbahaya adalah indikasi narsis yang menjurus ke gangguan mental.

BACA JUGA: Stres Karena Belum Dapat Pekerjaan? Ini Cara Mengatasinya!

“Pengunggahan pada media sosial akan menghubungkan diri pengunggah dengan banyak orang yang menjadi teman atau pengikutnya. Situasi ini menunjukkan banyaknya kawan yang dekat dengannya, yang biasanya memberi komentar. Ini akan menaikkan rasa percaya diri dan memberi kepuasan. Apalagi kalau peristiwanya berskala nasional dan sedang hangat terjadi,” jelasnya.

Foto yang diunggah diharapkan disaksikan oleh orang banyak. Semakin panjang dan banyak komentar, apakah pro dan kontra, maka akan semakin memuaskan pengunggahnya.

Dalam psikologi, kepuasan akan mendapatkan perhatian banyak orang yang terpusat pada dirinya merupakan kecenderungan mencintai diri sendiri alias narsisistik.

Risiko Besar Untuk Sekadar “Like”

Penelitian yang diungkapkan oleh US National Library of Medicine National Institutes of Health mengungkapkan bahwasanya ada banyak kematian konyol yang terjadi hanya demi jepretan foto. Bahkan sudah ada istilah untuk kematian konyol ini yang disebut selfiecides.

Sejatinya tidak ada yang salah dengan selfie, perilaku manusia yang menyertai selfie tersebutlah yang berbahaya. Selain membangun kesadaran dalam diri sendiri, perlu adanya himbauan dari pihak-pihak yang memiliki pengaruh untuk membuat aturan pelarangan pengambilan gambar.

Hal ini tidak hanya melindungi diri dari risiko karena bersinggungan dengan lokasi yang berbahaya melainkan juga mencegah orang-orang yang melihat foto-foto tersebut di media sosial melakukan hal yang sama.

Menyaksikan aksi-aksi ekstrem di media sosial juga bisa membuat pengguna media sosial lainnya mengalami Fear of Missing Out (FOMO). Ini adalah bentuk kecemasan yang Anda dapatkan ketika melihat pengalaman seru orang lain di media sosial (entah positif atau negatif) dan merasa kehidupan mereka lebih baik.

Jadi, bisa dikatakan tindakan selfie ekstrem ini bisa menjadi efek domino yang menyesatkan secara emosional dan psikologi.

BACA JUGA: Mungkin Kita Sesekali Perlu Detoks Digital…

Demikian dari postingan Bersih-bersih Media Sosial Dari Postingan “Wisata Demo”