Beban Berat Lingkungan Di Balik Kenyamanan Tisu Basah

0
217
tisu basah

Kalau Anda termasuk orang yang senang menggunakan tisu basah, ada baiknya Anda berpikir ulang untuk tetap menjadikannya sebagai kebiasaan. Ya, memang tisu basah bisa membantu Anda membersihkan kotoran lebih mudah, tetapi setelahnya sampah tisu basah akan menyisakan kotoran baru yang justru lebih susah diurai.

“Penggunaan tisu basah sudah dilarang di beberapa pendakian gunung karena mengandung bahan kimia sehingga sulit terurai,” jelas Heri Koesnadi, Koordinator Backpacker Indonesia, Jabodetabek.

Heri menjelaskan beberapa gunung yang menetapkan pelarangan tisu basah adalah Gunung Gede, Semeru, Ciremai. Bahkan sebenarnya penggunaan shampoo dan sabun juga dilarang.

Terkait dengan tisu basah, pada tahun 2015, situs yang cukup intens membahas isu kesehatan The Guardian menyebut kalau tisu basah adalah penjahat terbesar dalam kesehatan lingkungan. Hampir semua orang menggunakan tisu basah secara jamak.

BACA JUGA: Beeswax Wrap, Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan

Banyak orang dewasa menyimpan tisu basah yang dianggap mampu membersihkan lebih baik ketimbang tisu toilet biasa. Ini termasuk wisatawan yang menyimpan tisu basah di dalam tas untuk membersihkan tangan dan kebutuhan lain. Hal ini terlebih lagi bagi orang tua yang memiliki bayi. Rasanya tisu basah jadi barang wajib di dalam tas popok.

Tisu Basah, Salah Satu Penyumbang Mikroplastik 

Menurut data yang diungkapkan oleh The National Ocean Service, plastik memang jenis puing laut yang paling umum ditemukan di laut, namun tisu basah juga merupakan penyumbang terbesar mikroplastik di perairan.

Tidak hanya menyebabkan tumpukan sampah, mikropastik dari tisu basah juga secara teratur dicerna oleh organisme laut yang pada akhirnya mungkin dikonsumsi oleh manusia.

Penelitian tahun 2015 yang dilakukan oleh University of California menemukan bahwa sebagian besar ikan di pasar ikan di California dan Indonesia mengandung puing-puing berbahan plastik atau berserat.

Selain memiliki limbah yang sulit terurai, Indonesia hanya memiliki sedikit tempat pembuangan akhir, pengumpulan limbah atau daur ulang, sehingga limbah sampah kerap dilemparkan ke ke laut yang pada akhirnya menjadi konsumsi oleh makhluk air.

Tisu Basah Ternyata Tidak Seefektif Itu… 

Selain dampak lingkungan, penggunaan tisu basah juga dinilai tidak aman dan bisa menyebabkan iritasi pada kulit karena kandungan bahan kimianya.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan Michael Mosley dan tim biologi medisnya dalam acara Trust Me, I am Doctor, membersihkan meja ataupun sesuatu yang kotor dengan tisu basah justru membuatnya lebih rentan terhadap perkembangbiakan bakteri.

Penggunaan tisu basah hanya memindahkan bakteri dari satu tempat ke tempat lain. Menggunakan spons basah justru lebih efektif ketimbang tisu basah.

Jadi, ketika Anda ingin membersihkan sesuatu dari kulit, alternatif terbaik lainnya adalah dengan menggunakan kain katun yang sudah diberikan sabun ataupun minyak esensial, atau basuh dengan air dan keringkan dengan bahan.

Yuk, kita stop penggunaan tisu basah mulai dari sekarang!

BACA JUGA: Jangan Biarkan Indonesia Jadi Raja Sampah Plastik