Bawa Anjing ke Masjid karena Mengidap Schizophrenia, Masuk Akal?

0
175
schizophrenia penyebab

Mungkin Anda mengikuti berita mengenai seorang perempuan yang membawa anjing ke dalam masjid di Bogor, dan mungkin juga Anda sudah mendengar kelanjutan berita tersebut. Singkat cerita si pelaku mengidap schizophrenia, dan semua menjadi jadi lebih terang.

Lantas, apakah memang benar pengidap schizophrenia kerap mengalami halusinasi? dr. Ratna Mardiati SpKJ dari Klinik Angsamerah menyampaikan  kalau schizophrenia merupakan gangguan otak yang membuat si pengidap terganggu pikiran, perasaan dan perilakunya.

“Pengidap schizophrenia mengalami gangguan pada Reality Testing Ability (RTA), tidak mampu menilai realita karena mengalami halusinasi,” jelas dr. Ratna.  Halusinasi adalah persepsi yang salah ditangkap dari pancaindera (penglihatan, pendengaran, pembauan, perabaan, cita rasa).

Untuk mengenali schizophrenia, terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut:

  1. Waham
  2. Halusinasi
  3. Kekacauan bicara
  4. Kekacauan perilaku
  5. Gejala negatif

Waham merupakan keyakinan yang diyakini benar oleh pasien, namun secara nyata tidak benar. Karena adanya waham dan halusinasi maka terjadi kebingungan pikir sehingga ia berbicara kacau, berperasaan kacau, berperilaku kacau. Persis seperti yang kita lihat dilakukan oleh perempuan yang membawa anjing ke masjid.

Pikiran yang Terganggu

Sejatinya manusia mempunyai sistem saraf untuk menerima masukan informasi dari luar tubuh melalui indra dan dari dalam tubuh melalui reseptor di organ. Sistem saraf ini sambung menyambung sama halnya seperti kabel listrik, dari gardu induk ke gardu kompleks lalu sampai ke sistem panel listrik di rumah.

Setiap sambungan neuron (sel saraf) bekerja secara kimiawi untuk menghasilkan listrik pengantar informasi. Jika korslet, maka arus listrik tidak di antar ke tujuan tetapi membakar neuron lainnya.

Alat yang meneruskan transmisi informasi dalam neuron disebut neurotransmitter. Neurotransmitter inilah yang terganggu dalam pengidap gangguan jiwa. Ketika informasi dalam neuron yang korslet diteruskan ke neuran-neuron selanjutnya, ia akan salah arah, salah tafsir, sehingga orang tersebut akan salah mengambil keputusan.  Gejalanya adalah kekacauan pikir, kekacauan perasaan, kekacauan perilaku.

Membuat Orang Tidak Nyaman

Ketika pikiran orang dengan schizophrenia kacau, perasaannya dan perilakunya akan kacau yang dapat membuat orang di sekitarnya ketakutan. Sebenarnya orang yang mengalami schizophrenia itu sendiripun juga ketakutan.

Ketakutan akan memicu kemarahan, kesulitan berpikir jernih. Ketika persepsi terjadi, halusinasi menambah kekacauan, sehingga penilaian atas realita terganggu. Melihat orang bisa dipersepsikan sebagai melihat makhluk yang menakutkan seperti binatang buas misalnya.

Atau mungkin ia mendengar komando halusinasi dari telinganya sehingga ia mempersepsikan pohon besar sebagai pelindung dirinya, sehingga ia berhari-hari duduk dibawah pohon.

Dalam kasus pembawa anjing ke mesjid, terdapat penjelasan keluarga yang beredar di media sosial. Diceritakan bahwa sang ibu pembawa anjing ke mesjid itu “selalu merasa diikuti dan dijahati oleh pihak tertentu yang bahkan beliau tidak bisa jelaskan.”  

Keadaan aneh inilah yang memberikan situasi mengganggu dan ketidaknyamanan buat lingkungannya.

Menyembuhkan Schizophrenia

Psikiater, dokter kedokteran jiwa, akan memberikan obat untuk memperbaiki neurotransmitter dengan tujuan, kekacauan otak diminimalisasi. Lingkungan membantu menguatkan daya tahan mental dan menurunkan stressor.

Obat yang memperbaiki arus neurotransmitter dalam mengatur masukan informasi perlu terus dilanjutkan, dengan dosis yang mungkin dinaikan atau diturunkan tergantung situasi kondisi pasien saat itu. Karena itu kontrol berkala diperlukan.

Sejatinya, dalam schizophrenia tidak mengenal kata sembuh melainkan pulih dan berfungsi lagi.

BACA JUGA: Percepat Pemulihan Tubuh dengan Jahe Merah