Apa Beda Probiotik dengan Prebiotik dan dengan Antibiotik?

0
531
Apa Beda Probiotik dengan Prebiotik dan dengan Antibiotik?
Apa Beda Probiotik dengan Prebiotik dan dengan Antibiotik?

“Pencernaan adalah otak kedua Anda, “ungkap Riani Susanto, ND, CT, Naturophatic Doctor, Colonic Hydrotherapist, dan konsultan gaya hidup organik.

Bila dihubungkan dengan psikologi, saat kita merasa sedih atau takut, terkadang perut pun ikut terasa sakit.

Maka itu, penting menjaga pencernaan dalam keadaan baik sehingga kondisi tubuh kita tetap sehat. Maka itu juga, saat pencernaan kita dalam keadaan baik, tambah dokter Riani, penyakit pun enggan menghampiri.

Cara yang Disarankan untuk Menjaga Kesehatan Pencernaan

Salah satu cara yang disarankan untuk menjaga kesehatan pencernaan adalah mengonsumsi probiotik karena kemampuannya untuk membantu mencegah penyakit yang berkaitan dengan pencernaan maupun daya tahan tubuh, misalnya:

  • Diare yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit
  • Diare yang disebabkan oleh reaksi terhadap antibiotik
  • Sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome
  • Penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease
  • Alergi dan pilek
  • Gangguan kulit seperti eksim
  • Infeksi pernapasan
  • Konstipasi atau sulit BAB
  • Perut kembung
Kombucha adalah salah satu minuman yang mengandung probiotik<br /> <em>Foto: www.foodrenegade.com/</em>
Kombucha adalah salah satu minuman yang mengandung probiotik
Foto: www.foodrenegade.com/

Lalu, apa beda Probiotik dan Prebiotik?

Prebiotik berbeda dengan probiotik. Prebiotik adalah makanan untuk bakteri probiotik. Sering juga disebut sebagai nutrisi bagi perkembangan bakteri probiotik.

Ibaratnya, probiotik adalah bibit, dan prebiotik adalah tanahnya. Agar bibit dapat tumbuh subur, maka tanahnya pun harus dalam keadaan sehat.

Senyawa prebiotik ini banyak ditemukan dalam sayuran hijau, buah-buahan, tempe, tahu, susu kedelai, dan kacang polong.

“Prebiotik dan probiotik adalah dynamic duo yang bekerja sama meningkatkan kesehatan tubuh kita,”jelas dokter Riani.

Dosis Probiotik

Jumlah pasukan bakteri baik dalam tubuh dapat berkurang terutama bila kita sakit. Misalnya saja waktu kita mengalami diare.

Artinya pasukan bakteri “baik” jumlahnya kalah dari bakteri “jahat” penyebab diare. Maka, kita perlu menambah jumlahnya dengan mengonsumsi probiotik.

Dokter Riani menjelaskan, kebanyakan orang menghindari makan yogurt atau minum kombucha saat diare karena rasanya yang asam dan takut diarenya semakin parah.

“Padahal sebenarnya, saat diare kita membutuhkan lebih banyak lagi pasukan bakteri “baik” melalui makanan-makanan yang mengandung probiotik.

Probiotik juga dapat dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa perlu khawatir overdosis,” jelasnya.

Untuk sehari-hari, probiotik juga  dapat dikonsumsi semua kalangan, dari anak-anak hingga lansia.

Probiotik vs Antibiotik? 

Antibiotik seringkali dianggap sebagai ‘obat’ manjur untuk menghentikan proses infeksi. Sayangnya, dalam penggunaannya, efek negatif antibiotik juga tidak dapat dihindari.

Mengonsumsi antibiotik terlalu sering dapat menyebabkan kerusakan tatanan bakteri di usus.

Bila probiotik di usus terganggu oleh antibiotik, maka bakteri “jahat” justru berpotensi untuk tumbuh subur dalam pencernaan.

“Gejala yang paling sering terjadi adalah munculnya diare yang terjadi justru setelah selesai mengonsumsi antibiotik.

Pada beberapa kasus, diare tidak terlalu parah dan dapat sembuh dengan sendirinya. Nah, di sinilah peran penting probiotik.

Bila kita sedang mengonsumsi antibiotik, imbangi dengan asupan probiotik agar jumlah pasukan bakteri baik di tubuh kita tetap banyak,”ujar dokter Riani.

BACA JUGA :