10 Jenis Minyak Goreng yang Baik untuk Kesehatan

0
7830
Minyak Masak

Meski bukan metode yang paling sehat, menggoreng mungkin bisa dibilang cara memasak yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat. Dengan usaha sesederhana seperti menggoreng, makanan yang tercipta bisa jadi lezat, seperti ayam goreng atau lele goreng.

Untuk menggoreng, minyak goreng yang paling banyak tersedia di pasaran adalah minyak yang berasal dari kelapa sawit. Untungnya, kini tersedia juga berbagai jenis minyak lain yang punya masing-masing kelebihan. Salah satu hal yang kita perlu perhatikan dalam memilih minyak goreng adalah smoke point (titik asap).

Titik asap mengacu pada suhu ketika minyak mulai terbakar dan mengeluarkan asap. Saat Anda memasak dengan panas minyak yang melewati titik asapnya, makanan akan terasa terbakar. Nutrisi dan fitokimia bermanfaat dalam minyak mentah juga akan hancur ketika minyaknya terlalu panas.

Nah, mana minyak yang paling sehat dan sesuai dengan kebutuhan Anda? yuk kita pelajari!

1. Minyak Kedelai

Soybean oil

Kedelai adalah jenis kacang-kacangan yang banyak terdapat di Asia Timur. Mereka diklasifikasikan sebagai biji minyak. Kedelai dianggap sebagai protein lengkap karena adanya jumlah asam amino esensial. Kedelai banyak diolah di negara-negara seperti China dan Jepang, yang masyarakatnya lebih kecil terkena penyakit jantung, osteoporosis, kanker payudara dan kelenjar prostat.

Minyak kedelai kaya akan kandungan asam lemak tidak jenuh ganda atau asam linoleat omega 3 dan asam linolenat  atau omega 6 yang lebih tinggi dibandingkan  minyak nabati lainnya. Maka itu minyak ini disebut dapat membantu mencegah kolesterol dan jantung koroner, harganya juga termasuk murah membuat minyak kedelai ideal untuk menggoreng. Smoke Point: 256 derajat celsius.

2. Minyak Sayur

Vegetable oil

Secara historis, minyak nabati biasanya merupakan minyak kedelai. Namun belakangan, istilah ini juga digunakan untuk minyak yang berasal dari campuran berbagai jenis minyak. Kandungan lemak tak jenuh ganda minyak kedelai adalah 61 persen, lemak tak jenuh tunggal 24 persen, dan lemak jenuh 15 persen.

Minyak kedelai juga mengandung lemak omega 3 sahabat jantung, sama seperti yang ditemukan pada ikan sardin dan salmon. Minyak kedelai tak memiliki rasa dan aroma tertentu. Smoke point: 182 derajat celcius.

3. Minyak Zaitun

olive oil

Para ahli nutrisi dan ahli masak sepakat bahwa salah satu minyak yang paling fleksibel dan sehat untuk dipakai memasak adalah minyak zaitun. Minyak extra virgin didapat dari perasan pertama buah zaitun sehingga rasa dan aromanya lebih kuat, serta proses yang lebih sedikit, tapi lebih mahal dibanding jenis minyak zaitun lain.

Versi rafinasinya disebut minyak zaitun murni dan warnanya lebih terang, serta aromanya lebih ringan. Minyak zaitun mengandung lemak tak jenuh tunggal yang sangat tinggi, yakni 77 persen serta mengandung zat antioksidan yang disebut polifenol. Smoke point: 242 derajat celcius.

4. Minyak Kanola

Canola oil

Kanola Oil adalah salah satu jenis minyak nabati yang dihasilkan dari biji buah Kanola. Kanola adalah salah satu variasi genetic dari perkembangbiakan rapeseed di tahun 1960 dengan menggunakan metode tradisional agar rapseed  lebih mudah diolah tentu saja menjadi lebih enak.

Kanola adalah minyak goreng terkaya sumber alfa linolent, asam lemak omega 3 yang sangat baik bagi kesehatan jantung Anda. Kanola juga serbaguna, memiliki rasa yang netral, cahaya tekstur media tinggi. Smoke point-nya relatif rendah yaitu 204 derajat celcius, sehingga disarankan untuk untuk menumis dan memanggang.

5. Minyak Alpukat

minyak avocado alpukat

Minyak alpukat kaya akan lemak tak jenuh tunggal  70 persen lemak dalam minyak tak jenuh tunggal, dan memiliki salah satu tingkat lemak tak jenuh tunggal tertinggi di antara minyak goreng, kedua setelah minyak zaitun. Seperti minyak zaitun, minyak alpukat juga rendah lemak tak jenuh ganda 10 persen lemak dalam minyak tak jenuh ganda dan smoke point 271 derajat celcius.

Dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, minyak alpukat memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi 20 persen, tetapi persentase ini jauh lebih kecil daripada persentase lemak jenuh dalam mentega, lemak babi atau minyak tropis, seperti minyak kelapa atau kelapa sawit.